Pemantapan Tim Siaga Bencana Paroki Paroki Lingkar Merapi

Tim Siaga

Romo A. Banu Kurnianto, Pr., Direktur KARINAKAS memberi penekanan pada pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana dihadapi Tim Siaga Bencana Paroki, Sabtu, 20 Mei 2017 di Banyusumilir, Sleman DIY (Foto: Ferry)

KARINAKAS bersama Tim Siaga Bencana dari Paroki-Paroki di lingkar Merapi: Banyutemumpang, Salam, Muntilan, Somohitan, Medari, Pakem, Kebonarom, Kalasan, Babadan, Sumber, dan Boyolali mengadakan pertemuan membahas kesiapsiagaan ketika terjadi bencana, khususnya bencana Merapi. Pertemuan diadakan di Banyusumilir, Sleman, hadir 40an peserta dari 9 paroki, diisi dengan Tim Building, sharing pengalaman ketika menangani erusi 2010 dan membuat rencana tindak lanjut (RTL) untuk pemantapan Tim Siaga Bencana ke depan. Hadir pula Tim Tanggap Darurat (Tagar) yang selama ini banyak berkecimbung dalam menangani bencana.

Tim Siaga Bencana

Peserta melakukan Tim Bulding untuk makin memantapkan kerjasama dan kekompakan Tim (Foto: Ferry)

Romo A. Banu Kurnianto, Pr, mas Anang dan mas Bayu secara bergantian memimpin sharing dan RTL Tim Siaga Bencana ini. Dalam sharing, Paroki Babadan, Boyolali, Somohitan, Sumber, Medari, Pakem, Salam, dan Muntilan mengungkapkan bahwa Dewan paroki masing masing telah membuat Programasi untuk antisipasi bencana ini. Umumnya mereka menyiapkan penampungan, rekrutmen relawan, penyiapan posko, air bersih, dan logistik. Namun ada beberapa Paroki seperti misalnya Boyolali selalin menyiapkan tanggap darurat juga melakukan kegiatan Pengurangan Risiko Bencana melalui pembuatan demplot, terastiring tanah dan sebagainya.

Tim Siaga Bencana

Foto bersama Tim  Siaga Bencana Paroki (Foto: Ferry)

Upaya-upaya sistematis yang telah disiapkan paroki ini tentu menggembirakan namun masih terbersit kekhawatiran tentang kesiapan para relawan. Untuk itu para peserta menyusulkan agar KARINAKAS memfasilitasi mereka untuk mengadakan peningkatan kapasitas sebagai relawan melalui pelatihan-pelatihan. Di samping itu perlu ada pertemuan rutin antar paroki, grup WA untuk saling komunikasi, dan tersedianya alat komunikasi yang memadai.(Ferry T. Indratno)

Pendidikan Karakter Bagi Penerima Beasiswa KARINAKAS

Karakter Building

Para Penerima Beasiswa KARINAKAS berpose setelah acara berakhir (Foto: Fr. Toms)

“Mengenal potensi diri itu penting bagi kalian, apalagi yang sudah kelas III… Kalau tidak kenal potensi diri, maka kalian nanti akan binggung mau kuliah atau kerja apa dan dimana…, demikian kata Suster Huberta FSGM menyimpulkan seluruh sesi acara Karakter Building bagi Siswa-siswi Penerima Bantuan Beasiswa dari KARINAKAS.

 

Acara caracterBuilding (Pendidikan Karakter) bagi siswa-siswi penerima bantuan beasiswa KARINAKAS ini diikuti oleh 24 orang. Mereka adalah siswa-siswi penerima bantuan beasiswa dari berbagai sekolah dari tingkat SMP sampai SMA. Acara yang difasilitasi oleh KARINAKAS ini diselengarakan pada hari Minggu 30 April 2017 bertempat di rumah bapak FX Lamijo di Dusun Gayam, Gayamharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta.

Acara ini bertujuan agar para siswa-siswi mampu mengenal diri mereka yakni apa kelebihan dan kekurangan mereka. Mereka diajak untuk menonton film motivasi, mengikuti permainan, berdiam diri (merenung), dan berefleksi untuk dapat mengenali dan menggali potensi masing-masing, sehingga kelak mereka bisa memilih pekerjaan atau tempat studi yang tepat dan sesuai dengan bakat mereka. Pendamping acara ini adalah dua orang frater dari Konggregasi Hati Kudus Yesus (SCJ) yakni Frater H. Indra Sepriandika SCJ dan Frater Leo Adiwidiangga SCJ.

Acara yang dimulai pukul 10.00 WIB ini selesai pada pukul 15.00 WIB. Anak-anak merasa senang dan puas setelah mengikuti acara ini. Hal itu seperti yang disampaikan oleh Robertus Galih Anggaito yang biasa disapa Galih, siswa kelas XI jurusan Permesinan SMK Kristen I Klaten. Galih menyatakan rasa senangnya setelah mengikuti acara ini, karena ia bisa mulai mengetahui apa potensi dirinya sehingga kelak bisa mengembangkan potensi itu. Hal senada juga disampaikan oleh Ch. Fitri Andriyanti yang bisa disapa Fitri, siswi kelas XII jurusan Administrasi Perkantoran SMK Kristen II Klaten. Ia juga menyatakan rasa senangnya setelah mengikuti acara ini karena dapat semakin mengenal dirinya, mengenal apa potensi dirinya yang perlu dikembangkan, dan apa hal yang menghambat kemajuan dirinya.

 

Karakter Building

Anak-anak serius mengikuti paparan materi dari Frater (Foto: Fr. Toms)

Di sisi lain, siswa-siswi penerima bantuan beasiswa ini juga merasa senang atas bantuan beasiswa dari KARINAKAS yang selama ini telah mereka terima. Mereka merasa terbantu dengan adanya bantuan beasiswa itu. Hampir sebagian besar penerima bantuan beasiswa itu berasal dari keluarga kurang mampu yang penghasilan orangtuanya pas-pasan.

Ketika Anak-anak Belajar Upacara Adat

Implementasi Modul PRB

Prasena Nawak Santi (Berdiri baju putih) Fasilitator, dan Widodo (Duduk, berbaju hitam), Narasumber, dalam Ujicoba Modul PRB Berbasis Budaya di SDN 1 Sruni, Musuk Boyolali, 19 April 2017 yang lalu (Foto: Ferry)

Dalam rangkaian penyiapan pembuatan Modul Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Budaya, Program DRR KARINAKAS kembali melakukan kegiatan bersama dengan para guru di Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali. Kali ini pembuatan Modul sudah sampai tahap ujicoba modul yang sebelumnya dibuat oleh para guru.

Modul yang di ujicobakan adalah Mmodul upacara adat "Merti Tuk". Prasena Nawak Santi bertindak sebagai fasilitator dengan narasumber Widodo tokoh masyarakat Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali, yang wilayahnya berdekatan dengan Musuik. Anak-anak yang ikut ujicoba ini adalah anak kelas IV dan V SDN 1 Sruni, Kecamatan Musuk.

Sejak pagi anak-anak yang berjumlah 42 putra putri orang ini sudah antusias menunggu jalannya pembelajaran. Sebagian anak menggunakan pakaian adat Jawa-Surakarta. Yang perempuan menggunbakan jarik dan kebaya sedangkan yang lalki-laki menggunakan surjan dan iket sebagai penutup kepala.

Ujicoba Modul PRB

Anak-anak mengangkat Sesaji dan Ubo Rampe Merti Tuk dari arah "Sumber Air" ke ruang kelas (Foto: Ferry)

Fasilitator mengajak anak-anak menyanyi lagu Anak Indonesia Cinta Budaya sebagai pintu masuk ke materi Merti Tuk. Widodo yang menjadi narasumber menjelaskan pada anak mengapa harus dilakukan Merti Tuk, tujuannya, dan juga ubo rampe atau peralatan yang digunakan serta makna dibalik penggunaan alat alat tersebut.

Merti Tuk adalah memelihara mata air. Mata air ini harus terus dipelihara karena air merupakan sumber kehidupan utama. Memelihara Tuk adalah upaya pelestarian lingkungan pada pada gilirannya upaya ini sekaligus cara baik yang ditembuh untuk pengurangan risiko bencana. Sejak dini anak-anak harus dilatih kesadaran untuk terus memelihara alam ciptaan Tuhan ini sebagai bentuk memcintai kehidupan (Ferry T. Indratno)

Artikel Selanjutnya...

Halaman 1 dari 8