Emergency Respon Merapi

Merapi

Sejak tanggal 20 Mei 2018, Gunung Merapi mengeluarkan letusan freatik, yaitu letusan yang diakibatkan karena tekanan uap air di dalam kawah. Letusan ini berbeda dengan letusan magmatik. Letusan freatik ini mengakibatkan semburan abu ke berbagai arah. Seburan abu ini terjadi beberapa kali sehingga warga sekitar merapi terkena dampak abu. Bahkan ada beberapa warga yang terpaksa mengungsi. Status Merapi juga meningkat, dari normal menjadi waspada. Karinakas bekerjasama dengan Relawan-relawan Paroki sekitar lereng Merapi, melakukan tanggap darurat dengan pengadaan masker dan obat tetes mata. Masker diambil dari kantor Karinakas dan dibagikan oleh para Relawan Paroki sekitar lereng Merapi. (Foto: Dok: KARINAKAS)

Character Building KARINAKAS: Mengenal Biogas

 

Mengenal Biogas

CHARACTER BUILDING: Anak-anak penerima beasiswa sedang belajar tentang Biogas (Foto: Dok KARINAKAS)

Pada hari Minggu 20 Mei 2018, sekitar 25 siswa-siswi penerima beasiswa KARINAKAS mendapatkan pendampingan dalam rangka character building, khususnya bagaimana membangun sikap berkaitan dengan lingkungan hidup. Sebagai sarananya, mereka diperkenalkan dengan Biogas. Biogas adalah program yang sudah berjalan di Gayamharjo yang dipelopori oleh KARINAKAS, dan dijalankan oleh Kelompok Biogas Geni Panguripan Gayamharjo. Maka sebagai fasilitatornya adalah Tim dari Kelompok Biogas Geni Panguripan, bertempat di Rumah Ketua Kelompok Biogas, Bapak FX. Lamijo.

Pada kesempatan itu, para siswa diperkenalkan dengan apa itu Biogas, mulai dari mendengarkan penjelasan, tanya jawab, sampai melihat langsung yakni melihat proses pembuatan instalasi biogas, melihat instalasinya, dan melihat hasilnya. Siswa juga mendengarkan pengalaman bagaimana keuntungan menggunakan Biogas baik dari segi ekokomi yang membantu mengehemat pengeluaran, sampai pada keuntungan terhadap lingkungan hidup.

Biogas selain mengasilkan api untuk memasak dan untuk penerangan, juga menghasilkan pupuk organik yang bagus dan sehat untuk tanaman konsumsi misalnya sayur-sayuran. Harapan dari peremuan ini adalah anak-anak mulai dari sekarang diajak bagaimana menghargai lingkungan hidup, dan menjaga kelestariannya yang salah satunya dengan penghematan energi dengan menggunakan Biogas dan pupuknya. Semoga mereka menjadi generasi muda yang nantinya menjadi pejuang-pejuang kelestarian alam. (Rm. Toms)

Pelatihan Membuat Pupuk Organik

Biogas Gayam

Mas Setyo menunjukkan cara membuat pupuk otrganik dari residu biogas (Foto: Dok. KARIMAKAS)

Kelompok Biogas Geni Panguripan desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY mengadakan Pelatihan Pengolahan Redisu Biogas pada Minggu, 13 Mei 2018, bertempat di Sekretariat Geni Penguripan. Pelatihan yang difasilitasi Setyo, ketua Kelompok Biogas Agni Mandiri, Sruni, Kecamatan Musuk, kabupaten Boyolali, Jawa Tengah berlangsung lancar dan mendapat antusiasme dari peserta. Pelatihan diikuti oleh 18 orang anggota Kelompok Geni Panguripan.

Selain belajar teori tentang pupuk organik olahan dari residu biogas, peserta juga melakukan praktek langsung membuat pupuk organik. Menurut Setyo, residu biogas, baik yang padat maupun yang cair memang bisa langsung diaplikasikan ke tanaman, meskipun itu belum cukup. Hal itu dikarenakan dalam residu biogas, kandungan yang paling besar adalah unsur hara nitrogen (N). Sedangkan unsur Fosfor (P) dan Kalium (K) masih kurang sehingga perlu dilengkapi. Ada banyak bahan-bahan di sekitar yang dapat digunakan untuk melengkapi unsur P dan K. Di antaranya bonggol pisang, cangkang telur, empon-empon, dan sabut kelapa.

Dalam pelatihan ini, para peserta berharap agar selain dapat mandiri secara energy, dengan adanya biogas, pertanian pun bisa dikembangkan. Kelompok sendiri selama ini sudah mencoba membuat demplot sayuran dengan menggunakan residu biogas yang diaplikasikan secara langsung.

Eko Purwanto, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) untuk desa Gayamharjo, yang turut hadir dalam pelatihan tersebut berharap, pelatihan ini bisa mendorong warga desa Gayamharjo untuk kembali pada pola hidup sehat. Mengembangkan pertanian organik berarti menjaga lingkungan tetap sehat, dan juga menjaga konsumsi makanan yang sehat. Pada akhir pelatihan, Setyo juga berharap kerjasama antara Geni Pangurian dan Agni Mandiri semakin kuat, agar dapat mengembangkan pertanian dan peternakan yang terintegrasi secara maksimal. “Ayo menanam yang bisa memelihara tanah dengan pertanian terintegrasi. Syukur bisa memunculkan sumber-sumber ekonomi baru yang kreatif.” Tegas Setyo. ( Sr. M. Huberta FSGM)

Artikel Selanjutnya...

Halaman 1 dari 13