Biogas Masuk dalam EPDESKEL Kabupaten Sleman

Biogas

BIOGAS bermanfaat mengurangi penggunaan kayu bakar dan gas LPG. Kelompok Biogas Geni Panguripan menjadi salah satu bagian penilaian dalam EPDESKEL (Evaluasi Perkembangan Desa dan Kelurahan) Kabupaten Sleman. Evaluasi Perkembangan Desa dan Kelurahan bertujuan untuk memantau dan menilai tingkat perkembangan desa dan kelurahan. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 25 April 2019, bertempat di Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan.

Kelompok Biogas Geni Panguripan menjadi salah satu point penilaian dalam rangka EPDESKEL tersebut. Tim EPDESKESL mengadakan survei langsung ke salah satu anggota Kelompok Biogas Geni Panguripan yakni Bp Parmin, Dukuh Kalinongko Kidul, Desa Gayamharjo. Mereka memberikan tanggapan dan apresiasi terhadap adanya program Biogas ini. Adanya EPDESKEL memicu desa untuk semakin membangun desa lebih maksimal. Sedangkan bagi kelompok Geni Panguripan, EPDESKEL memberikan motivasi untuk semakin mengembangkan inovasi Biogas (Sr. Huberta)

 

Kunjungan Tamu dari Belanda ke Dampingan KARINAKAS

Micara

Pada hari Senin (1/4/2019) dan Selasa (2/4/2019), KARINAKAS mendapat kehormatan karena dikunjungi oleh perwakilan dari Sticthing Micara (salah donor Karinakas untuk program beasiswa pada anak dari keluarga tidak mampu). Mereka adalah anggota kelompok Sticthing Micara yakni Mr. Kees van Oers dan Mrs. Van der Vost. Mereka datang ke Indonesia khususnya tempat dampingan Karinakas, untuk mengunjungi dampingan Karinakas.

Pada hari pertama (1/4/2019) mereka mengunjungi Desa Gayamharjo, Sleman, DIY, untuk bertemu dengan dampingan Karinakas yakni Kelompok Biogas Geni Panguripan dan para penerima beasiswa Karinakas. Mereka juga menyaksikan produk-produk dampingan di antaranya Biogas dan Ecoprinting. Pada hari kedua, mereka mengunjungi sanggar-sanggar Inklusi untuk difabel dampingan Karinakas di Sukoharjo, salah satunya adalah Sanggar Iklusi Tunas Bangsa di Nguter, Sukoharjo. (Rm Toms)

 

Biogas Serut Menyala

Serut Biogas

Riyanto (44 th), salah seorang warga dukuh Dawung, desa Serut, kecamatan Gedangsari, kabupaten Gunung Kidul, terlihat sangat gembira melihat api yang keluar dari instalasi Biogas yang telah dibuat di rumahnya. Biogas itu dibuat melalui dampingan KARINAKAS dan Kelompok Biogas Geni Panguripan, desa Gayamharjo, kecamatan Prambanan, kabupaten Sleman, DIY. Serut, merupakan salah satu desa di kecamatan Gedangsari yang setiap tahunnya mengalami kekeringan. Warga sendiri sering menganggap biasa kekeringan ini karena mereka selalu menghadapinya setiap tahun. Meski kekeringan melanda setiap tahu, namun kebanyakan warga bekerja sebagai peternak dan petani. Selama ini warga menggantungkan perekonomiannya pada pertanian tadah hujan dan pada peternakan. Selama ini pula, kotoran ternak yang dihasilkan, baru digunakan untuk mendukung pertanian secara sederhana tanpa diolah. Biasanya mereka akan mengangkut kotoran ternak tersebut untuk dijadikan pupuk.

Saat KARINAKAS menawarkan program Biogas di desa Serut, Riyanto menyambutnya dengan antusias. “Saya memelihara babi, awalnya untuk mengisi waktu luang kalau sedang libur dari tugas di Gereja. Nah, kotoran yang dihasilkan sangat luar biasa. Saya juga agak kuatir, bagaimana kalau nanti ada yang protes.” tutur pria yang sehari-hari bekerja sebagai koster gereja Paroki Dalem dan masih menyempatkan diri untuk memelihara ternak babi. “Pernah juga ada petugas dari peternakan yang datang, tapi tidak ada solusi untuk kotoran ternak saya. Mereka hanya bertanya bagaimana saya mengelola kotoran ternak? Nah, itu menjadi pemikiran untuk saya” lanjutnya. Itu sebabnya, Riyanto menyambut baik tawaran KARINAKAS tersebut. KARINIKAS juga melihat potensi ternak yang ada di desa Serut cukup baik, maka KARINAKAS mengajak Riyanto untuk bekerjasama melibatkan warga yang lain yang juga memiliki ternak untuk mengikuti sosialisasi Biogas oleh KARINAKAS.

Riyanto juga yang akhirnya terpilih menjadi Ketua Kelompok Biogas Desa Serut, yang diberi nama Kelompok Manunggaling Latu Biru. “Manunggaling itu bersatu karena biogas ini dibuat dalam kelompok. Latu itu api. Biru karena warna apinya biru.” Kata Riyanto menjelaskan arti dari nama kelompoknya. Kini biogas Riyanto sudah menyala, dan akan diikuti oleh anggota kelompok lainnya yang sedang dalam proses penyelesaian intalasi. Semoga program Biogas ini juga memberikan api semangat untuk warga desa Serut untuk mengembangkan peternakan yang terintegrasi demi perkembangan desa Serut, dan demi kelestarian lingkungan alam. (Sr. M. Huberta FSGM)

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com