LAPORAN SEMENTARA PERTAMA KEGIATAN TANGGAP BENCANA SULAWESI TENGAH

  1. 1.Latar Belakang
  • Gempa Bumi Palu, Sigi, Donggala (M 7,4) 28 Sept 2018 (18.22 WITA): Bencana Kemanusiaan: menimbulkan korban jiwa (2.112), hilang (1.309), luka-luka (4.612), rumah rusak (83.392), dan ribuan orang mengungsi (231.776). Data dari KOGASGABPAD (Komando Tugas Gabungan Terpadu) Palu (19 Oktober 2018)
  • Warga terdampak yang masih selamat dan mengungsi membutuhkan bantuan
  • Rasa solidaritas Gereja KAS untuk para warga terdampak bencana
  • Palu, Sigi dan Donggala masuk wilayah Keuskupan Manado. Tanggap Bencana dilaksanakan oleh Karitas PSE Keuskupan Manado
  • KARINA KAS (Karitas Indonesia Keuskupan Agung Semarang), membantu Karitas Keuskupan Manado dalam Tanggap Bencana
  1. 2.Tujuan
  • Membantu Karitas Manado dalam kegiatan Tanggap Bencana
  • Membantu memenuhi kebutuhan mendesak penyintas/pengungsi (bahan makanan, air bersih, terpal, ember, kelambu, dll), sambil menunggu realisasi penuh program pemerintah
  • Membantu agar para warga terdampak hidup layak dan bermartabat
  • Menumbuhkan semangat solidaritas umat KAS
  • Menghadirkan wajah sosial Gereja di tengah-tengah masyarakat
  1. 3.Metode
  • Mengadakan, mengumpulkan dan menyalurkan bantuan dalam bentuk dana

         -  Bantuan dana digunakan untuk operasional Relawan Karinakas yang dikirim ke Palu, dan untuk mendukung                        operasional serta pengadaan barang bantuan dalam kegiatan Tangap Bencana

         -  Bantuan juga digunakan untuk membantu para pelajar dan mahasiswa dari Palu, Sigi, Donggala yang belajar di                     Yogyakarta

  • Berkoordinasi dengan Karitas Manado dan Karina KWI
  • Berkoordinasi dengan Jaringan Karitas lainnya (Karitas Makasar, Bandung, Tanjungkarang, Jakarta, Surabaya, dll).
  1. 4.Pelaksanaan
  • Karinakas membantu kegiatan Tanggap Bencana Karitas Manado sejak tgl 3 Oktober 2018 sampai waktu yg blm ditentukan
  • Karinakas terus berkoordinasi dengan Rm Joy Dery (Direktur Karitas Manado) dan Karina KWI mengenai waktu dan kebutuhan untuk Tanggap Bencana
  1. 5.Jumlah Keluarga Terdampak yg Direspon (sampai 29 Oktober): 7.500 KK (sekitar 37.000 jiwa). Mereka tersebar di:
  • Kabupaten Donggala
  • Kabupaten Sigi
  • Kota Palu
  1. 6.Rencana Ke Depan
  • Berkoordinasi dengan Karitas Manado, Karina KWI dan jaringan Karitas Indonesia dalam kegiatan selanjutnya
  • Mensuport kegiatan tersebut baik itu dengan mengirimkan relawan ataupun bantuan finansial
  1. 7.Laporan Keuangan (sampai 5 November 2018)

       Ringkasan:

  • Donasi (Mandiri, Niaga, Cash): Rp 1,695,145,405
  • Pengeluaran sementara: Rp    335,724,637

 

LAPORAN SEMENTARA KEDUA KEGIATAN TANGGAP BENCANA LOMBOK

  1. 1.Latar Belakang
  • Gempa Bumi Lombok (M. 7): Bencana Kemanusiaan: menimbulkan korban jiwa (548), luka-luka (7.145), kerugian harta, rumah rusak (83.392), dan ribuan orang mengungsi (396.032)
  • Warga terdampak masih membutuhkan bantuan, terutama yang sampai sekarang belum bekerja dan berpenghasilan
  • Rasa solidaritas Gereja KAS untuk para warga terdampak bencana
  • Setelah masa Tanggap Darurat selesai, Karitas PSE Keuskupan Denpasar mengadakan Program Pemulihan Pasca Bencana
  • KARINAKAS (Karitas Indonesia Keuskupan Agung Semarang) membantu Karitas Denpasar dalam Program Pemulihan Pasca Bencana
  1. 2.Tujuan
  • Mendukung Program Pemulihan Pasca Bencana yang dilaksanaan oleh Karitas PSE Keuskupan Denpasar, yang dikoordinatori oleh Karina KWI
  • Membantu memenuhi kebutuhan penyintas/pengungsi, fokus kebutuhan adalah pada hunian, sembako, alat masak, dan jaringan air bersih.
  • Membantu pemulihan pasca bencana, agar hidup sehari-hari para warga terdampak semakin layak dan bermartabat
  • Menghadirkan wajah sosial Gereja di tengah-tengah masyarakat
  1. 3.Metode
  • Mengadakan, mengumpulkan dan menyalurkan bantuan
  • Bekerjasama dengan Karina KWI, Karitas Denpasar, dan Tiga Karitas Keuskupan (Jakarta, Bogor, Surabaya).

           -  Karitas Denpasar sebagai Pelaksana Program (Implementor),

           -  Karina KWI sebagai Koordinator (Holder),

           -  Karitas Semarang, Surabaya, Bogor, Jakarta sebagai Keuskupan Donor,

           -  Didukung oleh: Caritas Italiana dan Caritas Hongkong

  • Karitas Denpasar sebagai pelaksana jalannya program, mendampingi, dan ada pelibatan warga local
  1. 4.Pelaksanaan dan Tempat
  • Program Pemulihan Pasca Bencana akan dilaksanakan selama 6 bulan, dimulai bulan November 2018
  • Fokus dua desa: (1) Desa Sambik Elen 1, Kec Bayan, Lombok Utara, (2) Desa Loloan (Dusun Tanjung Biru dan Dusun Torean), Kec. Bayan, Lombok Utara
  1. 5.Jumlah KK Penerima Manfaat
  • Jumlah penerima manfaat di dua desa tersebut adalah 578 KK
  1. 6.Fokus Barang Bantuan
Food Item Non Food Item
Nama Jumlah Nama Jumlah
Beras 11,76 ton Atap Spandex 3.720 lembar
Minyak Goreng 442 ltr Pipa Air HDPE 3” 2.400 meter
Ikan Asin 221 kg Arco (grobak roda 1) 96 buah
Paket Alat Masak 442 paket
  1. 7.Jumlah Keluarga Terdampak yg telah Direspon (sampai Oktober 2018)

            -  Kab. Lombok Utara (Kec. Bayan, Pemenang, Tanjung, Gangga)

            -  Kab. Lombok Barat (Kec. Gunungsari, Batu Layar)

            -  Kota Mataram (Ampenan, Kota Mataram)

            -  Kab. Sumbawa (Kec. Alas dan Pulau Bungin)

  1. 8.Rencana Ke Depan
  • KARINAKAS bersama 3 Karitas (Surabaya, Bogor, Jakarta) dan Karina KWI terus berkoordinasi dengan Karitas Denpasar dalam Program Pemulihan Pasca Bencana
  • Mensuport dan Memonitor Program Pasca Bencana yang dilaksanakan oleh Karitas Denpasar
  1. 9.Laporan Keuangan (sampai 5 November 2018)

         Ringkasan:

  • Donasi (Mandiri, Niaga, Cash): Rp 1.729.451.318
  • Pengeluaran sementara: Rp   709.157.793

 

Keterlibatan Gereja KAS pada Bencana Palu-Donggala-Sigi

Palu

Belum pulih benar kesedihan karena gempa bumi Lombok, terjadi gempa lagi di Sulawesi Tengah sebesar M 7,4. Gempa tersebut terjadi pada hari Jumat 28 September 2018, tepatnya pukul 17.02 WIB. Gempa bumi yang disertai tsunami tersebut melanda Kota Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya. Bencana ini mengakibatkan banyak kerusakan dan kerugian baik jiwa, harta benda, maupun fasilitas-fasilitas umum.

Data terakhir (19 Oktober 2018) dari Kogasgabpad (Komando Tugas Gabungan Terpadu) Palu, menunjukkan bahwa terdapat 2.112 orang meninggal akibat bencana ini (Palu 1.703 orang, Donggala 171 orang, Sigi 223 orang, Parigi Moutong 15 orang). Korban hilang atau tertimbun 1.309 orang, korban luka 4.612 orang, pengungsi sekitar 231.776 orang. Selain mengakibatkan korban jiwa, gempa juga menimbulkan kerusakan yakni 68.451 rumah warga rusak, dan banyak fasilitas umum lain yang mengalami kerusakan.

Gempa dan tsunami ini meninggalkan kesedihan dan penderitaan mendalam bagi warga terdampak. Mereka kehilangan orang yang dikasihi yakni keluarga, sanak saudara, tetangga, dan juga kehilangan pekerjaan, rumah, tanah, harta benda, dan yang lebih susah adalah mereka tidak lagi bisa melakukan aktivitas normal seperti hari-hari sebelumnya, dan harus tinggal di pengungsian yang jauh dari tempat tinggalnya semula. Gempa itu juga menimbulkan rasa takut, trauma dan bahkan ada yang tidak berani kembali ke kampung halamannya setelah peristiwa gempa disertai lekuifaksi. “Gempa kali ini sungguh amat menakutkan, saya masih takut kembali ke rumah”, kata bapak Saul (63 tahun) dari Desa Jonooge, Kec. Sigi Biromaru, Kab. Sigi. Bapak Saul dan keluarganya, serta saudara dan beberapa tetangganya yang masih selamat, kini mengungsi di pengungsian Desa Pombewe, Kec. Sigi Biromaru, Kab. Sigi, Prov. Sulteng.

KARINAKAS sebagai lembaga Keuskupan Agung Semarang yang memegang mandat kebencanaan, membantu CARITAS PSE Keuskupan Manado (sebagai tuan rumah), dan CARITAS Makasar dalam kegiatan respon bencana ini. Hal itu dilaksanakan dalam koordinasi dengan KARINA KWI, dan dibantu pula oleh Caritas lain misalnya Caritas Tanjung Karang, Bandung, LDD Jakarta, serta didukung pula oleh CRS (Catholic Relief Service), JRS (Jesuit Refugee Service) dan komunitas-komunitas lain termasuk komunitas para suster. Dalam semangat belarasa, para relawan bahu membahu dan saling membantu serta mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran untuk bersatu dalam kegiatan kemanusiaan yakni membantu meringankan penderitaan para warga terdampak gempa.

KARINAKAS hadir membantu dalam respon bencana ini, baik itu dengan mengirimkan para relawan maupun membantu secara finansial. Para relawan KARINAKAS membantu dalam proses respon bencana misalnya dalam kegiatan assessment, proses pendistribusian barang bantuan, logistik, transportasi, dan kesektretariatan. Para relawan tinggal di Posko St Maria, yang berada di kompleks Gereja Paroki Santa Maria, Palu. Semua barang bantuan dan kegiatan respon berpusat di Posko Santa Maria ini.

Selama kegiatan respon bencana sampai tanggal 24 Oktober ini, setidaknya sudah sekitar 40 ribu warga terdampak yang telah direspon oleh Gereja melalui kegiatan kemanusiaan jaringan Caritas, yang dipimpin oleh Caritas PSE Keuskupan Manado ini. Banyak pula warga terdampak yang merasa bersyukur atas perhatian dan bantuan ini. “Saya bersyukur sekali dan sangat senang, semoga Tuhan membalas kebaikan bapak…” demikian ungkap bapak Subarna yang mengungsi di pengungsian Pos 6 Desa Lolu, Kec. Sigi Biromaru, Kab. Sigi, Prov. Sulteng.

Selain membantu respon bencana Caritas PSE Manado, KARINAKAS juga memberikan bantuan kepada para pelajar dan mahasiswa asal Palu, Donggala dan sekitarnya, yang sedang belajar di Yogyakarta. Mereka berjumlah sekitar 500-600 orang. Gempa bumi Palu, Donggala ini menyebabkan mereka kehilangan tempat tinggal dan keluarganya, sehingga otomatis kiriman bantuan baik itu untuk studi, biaya kost dan hidup sehari-hari terputus. Maka, bekerjasama dengan berbagai pihak termasuk pemerintah, KARINAKAS membantu para mahasiswa tersebut dengan mengirimkan bahan makanan dan bahan non pangan ke salah satu posko yakni di RW 01 Bintaran Yogyakarta. KARINAKAS akan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait dalam respon selanjutnya bagi para mahasiswa tersebut.

Akhirnya, KARINAKAS mengucapkan terimakasih atas keterlibatan dan kemurahan hati seluruh umat KAS pada aksi solidaritas untuk Palu, Donggala dan Sigi ini. Bantuan dari seluruh umat di paroki-paroki KAS, maupun komunitas-komunitas, sungguh amat membantu meringankan beban penderitaan warga terdampak gempa. Semoga bantuan ini mampu mengurangi penderitaan warga terdampak, dan sekaligus menghadirkan wajah sosial Gereja di tengah-tengah masyarakat, karena apa yang menjadi duka dan kecemasan masyarakat, juga menjadi duka dan kecemasan Gereja (GS 1). Semoga gerakan solidaritas ini juga membantu umat maupun komunitas-komunitas untuk belajar semakin mengembangkan semangat belarasa dan kepedulian pada sesama yang menderita. KARINAKAS akan terus berkoordinasi dengan Pos Pelayanan Caritas PSE Manado dan Karina KWI untuk menentukan langkah-langkah repon selanjutnya. (Rm. Toms)

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com