Biogas Serut Menyala

Serut Biogas

Riyanto (44 th), salah seorang warga dukuh Dawung, desa Serut, kecamatan Gedangsari, kabupaten Gunung Kidul, terlihat sangat gembira melihat api yang keluar dari instalasi Biogas yang telah dibuat di rumahnya. Biogas itu dibuat melalui dampingan KARINAKAS dan Kelompok Biogas Geni Panguripan, desa Gayamharjo, kecamatan Prambanan, kabupaten Sleman, DIY. Serut, merupakan salah satu desa di kecamatan Gedangsari yang setiap tahunnya mengalami kekeringan. Warga sendiri sering menganggap biasa kekeringan ini karena mereka selalu menghadapinya setiap tahun. Meski kekeringan melanda setiap tahu, namun kebanyakan warga bekerja sebagai peternak dan petani. Selama ini warga menggantungkan perekonomiannya pada pertanian tadah hujan dan pada peternakan. Selama ini pula, kotoran ternak yang dihasilkan, baru digunakan untuk mendukung pertanian secara sederhana tanpa diolah. Biasanya mereka akan mengangkut kotoran ternak tersebut untuk dijadikan pupuk.

Saat KARINAKAS menawarkan program Biogas di desa Serut, Riyanto menyambutnya dengan antusias. “Saya memelihara babi, awalnya untuk mengisi waktu luang kalau sedang libur dari tugas di Gereja. Nah, kotoran yang dihasilkan sangat luar biasa. Saya juga agak kuatir, bagaimana kalau nanti ada yang protes.” tutur pria yang sehari-hari bekerja sebagai koster gereja Paroki Dalem dan masih menyempatkan diri untuk memelihara ternak babi. “Pernah juga ada petugas dari peternakan yang datang, tapi tidak ada solusi untuk kotoran ternak saya. Mereka hanya bertanya bagaimana saya mengelola kotoran ternak? Nah, itu menjadi pemikiran untuk saya” lanjutnya. Itu sebabnya, Riyanto menyambut baik tawaran KARINAKAS tersebut. KARINIKAS juga melihat potensi ternak yang ada di desa Serut cukup baik, maka KARINAKAS mengajak Riyanto untuk bekerjasama melibatkan warga yang lain yang juga memiliki ternak untuk mengikuti sosialisasi Biogas oleh KARINAKAS.

Riyanto juga yang akhirnya terpilih menjadi Ketua Kelompok Biogas Desa Serut, yang diberi nama Kelompok Manunggaling Latu Biru. “Manunggaling itu bersatu karena biogas ini dibuat dalam kelompok. Latu itu api. Biru karena warna apinya biru.” Kata Riyanto menjelaskan arti dari nama kelompoknya. Kini biogas Riyanto sudah menyala, dan akan diikuti oleh anggota kelompok lainnya yang sedang dalam proses penyelesaian intalasi. Semoga program Biogas ini juga memberikan api semangat untuk warga desa Serut untuk mengembangkan peternakan yang terintegrasi demi perkembangan desa Serut, dan demi kelestarian lingkungan alam. (Sr. M. Huberta FSGM)

Pertemuan Karitas Regio Jawa di Palu

DRR Palu

Pada tanggal 11 sampai 15 Desember 2018, terjadi pertemuan antara para Direktur dan beberapa staf Karitas Regio Jawa di Paroki Santa Maria Palu. Mereka adalah Direktur Karitas Bandung (Rm Darwanto, Pr), Direktur Karitas Keuskupan Agung Semarang (Rm Martinus Sutomo, Pr), Direktur Karitas Surabaya (Rm Made, Pr), sedangkan Direktur Karitas Bogor (Rm Y. Eko, Pr) tidak dapat hadir. Pertemuan juga dihadiri oleh tim dari Karitas PSE Manado. Pertemuan itu bertujuan untuk membahas mengenai kelanjutan respon bencana gempa dan tsunami Sulewesi Tengah. Masa emergency respon sudah selesai, beralih ke masa transisi atau peralihan ke pemulihan awal. Untuk itulah Karitas Regio Jawa mengadakan pertemuan untuk merancang program yang akan dilaksanakan, agar supaya para warga terdampak dapat segera kembali hidup sehari-hari dengan layak dan bermartabat.

Program yang akan dilaksanakan ini berfokus pada tiga hal yaitu: pembangunan hunian sementara (untuk sekitar 11 KK), pembangunan jaringan air bersih (sekitar 2.000 meter), perbaikan rumah umat yang rusak (sekitar 75 KK). Pada pertemuan tersebut, tim dari Karitas Regio Jawa dibantu oleh tim dari Karitas PSE Manado, mengadakan kunjungan ke lapangan dan mengadakan verifikasi data. Kemudian dilanjutkan dengan merencanakan sebuah kesepakatan diantaranya kepastian mengenai Karitas mana saja dari Regio Jawa yang akan terlibat, metode pelaksanaan program, waktu pelaksanaan dan juga besarnya dana.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari pihak Keuskupan Manado yang dalam hal ini diwakili oleh Karitas PSE Manado. Dalam program ini, nantinya yang menjadi implementor program adalah Karitas PSE Manado, dan holder program adalah Karitas Regio Jawa yang dalam hal ini dikoordinatori oleh Karitas Bandung sebagai Koordinator Regio Jawa. Semoga dengan berjalannya program ini, kehidupan warga maryarakat terdampak semakin layak dan bermartabat, dan semoga dapat menjadi sarana hadirnya wajah sosial Gereja di tengah-tengah masyarakat. (Rm Toms)

Penyaluran Bantuan untuk Mahasiswa Sul-Teng Yogyakarta

 Palju

“Terimakasih banget Romo, sungguh dana ini sangat-sangat membantu saya…”, demikian ungkap Mery Christi, mahasiswi asal Desa Jonooge, Kecamatan Sigi Biromaru, Sigi, Sulawesi Tengah. Sejak bencana gempa M7,4 terjadi (28/9/2018), sampai saat ini Christi belum pernah pulang ke desanya. Kecuali tidak ada dana, orangtuanya juga melarangnya untuk pulang. Gempa dan tsunami tersebut telah merusak rumah Chirsti, sehingga keluarganya harus mengungsi ke daerah lain, karena desanya dilanda gempa disertai likufaksi. Akibat bencana itu, rumah keluarganya rusak parah dan sumber penghasilan keluarga juga rusak, sehingga aliran dana dari keluarga untuk biaya kuliah dan hidup sehari-hari terhenti, dan dampaknya semakin terasa berat di hari-hari ini.

KARINAKAS bekerjasama dengan Panitia Posko Peduli Sul-Teng Yogyakarta yang berkantor di Jl. Kapten Laut Samadikun No 8, Wirogunan, Mergangsan, Yogyakarta, melakukan assessment atau kajian untuk mendapatkan data lengkap mengenai situasi dan kondisi para mahasiswa serta keluarganya di Sul-Teng. Para mahasiswa yang terdampak parah dan belum mendapat bantuan itulah yang akan dibantu. Setelah mengadakan diskusi panjang dan kajian mendalam, maka KARINAKAS sepakat membantu 300 mahasiswa dari total 590-an mahasiswa.

Fokus bantuan KARINAKAS adalah pada makanan, tempat tinggal (biaya kost) dan transport, yang diterimakan dalam bentuk dana cash. Bantuan termin pertama diterimakan untuk 100 orang mahasiswa, pada hari Senin, 3 Desember 2018, pukul 10.00 sampai 16.00 WIB, bertempat di kantor KARINAKAS. Bantuan diberikan by name, by address (per orang, per alamat), dengan menandatangani surat pernyataan dan melampirkan identitas diri.

Selain itu, sebagai bentuk penghargaan atar kerjakeras para Panitia, KARINAKAS juga memberi apresiasi dengan memberikan bantuan akomodasi untuk para Panitia sejumlah 15 orang. Para Panitia tersebut adalah mereka yang berasal dari Sul-Teng dan juga sama-sama terdampak bencana, bahkan ada yang kehilangan orangtuanya. KARINAKAS berharap semoga bantuan tersebut bisa meringankan penderitaan para mahasiswa, dan sekaligus menghadirkan sentuhan kasih Allah bagi mereka semua. Salam Belarasa. (Rm. Toms)

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com