Memetakan Budaya Lokal untuk PRB

Pemetaan Budaya Lokal

Y. Bayu Kristiawan Manajer Program DRR KARINAKAS dan Marjuki (kanan, mengenakan jaket hitam), Kepala Desa Samiran, sedang menjelaskan proses kegiatan pemertaan budaya di Balai Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali, akhir Februari 2017 (Foto: Ferry)

 

KARINAKAS bersama dengan warga masyarakat di Desa Samiran dan  Suroteleng Kecamatan Selo serta warga Desa Sruni dan Cluntang, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali,  melakukan pemetaan unsur kebuyaan yang masih hidup dalam kehidupan mereka sehari hari. Pemetaan ini sebagai bahan pembelajaran untuk dimasukkan dalam materi pelajaran di Sekolah Dasar (SD) di wilayah mereka. 

Dimasukkannya bahan budaya itu sebagai strategi untuk Pengurangan Resiko Bencana (PRB). Artinya nilai nilai baik yang berkembang di masyarakat, misalnya dengan Tradisi Merti Tuk, yakni tradisi untuk menjaga air, bisa terus dilesatrikan oleh masyarakat karena ini akan menumbuhkan kesadaran sejak dini dalam diri anak-anak bahwa mereka memiliki nilai nilai baik untuk diteruskan dalam kehidupan mendatang.

Kegiatan yang difasilitasi Yayasan Abisatya ini menggunakan Teori 7 Unsur Kebudayaan menurut Koentjaraningrat untuk menggali unsur unsur budaya dalam masyarakat  lewat FGD yang melibatkan tokoh  dan pengisian angket oleh para guru SD. Unsur kebudayaan yang digali tersebut adalah: Sistem Religi, Organisasi Sosial, Sistem Pengetahuan, Sistem Mata Pencarian, Sistem Teknologi dan Peralatan Hidup, Bahasa, serta Kesenian. (Ferry T. Indratno)

Agni Mandiri Menyemai Ilmu Biogas

Biogas Gayamharjo

Setiyo, Ketua Kelompok Agni Mandiri, memberi penjelasan teknis cara membuat instalasi biogas pada rekannya Kelompok Geni Panguripan, Desa Gayamharjo, Prambana , Sleman, di Gayamharjo awal Februari 2017 yang lalu (Foto: Sr. Huberta, FSGM).

Untuk mengembangkan lingkungan yang ramah dari polusi, Kelompok Agni Mandiri, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Boyolali,  yang merupakan salah satu dampingan program Building Community Resilien KARINAKAS, melakukan pendampingan teknis pembangunan instalasi biogas bagi kelompok Geni Panguripan, Gayamharjo, Prambanan,  Sleman.

Kelompok Agni Mandiri membagikan pengalaman membuat biogas dengan dana yang murah dan terjangkau, yaitu dengan cara pembangunan secara gotong royong. Menurut Lamijo, ketua kelompok Geni Panguripan, saat ini ada 10 orang yang sudah berkomitmen untuk membangun biogas di desa Gayamharjo. Biogas tidak hanya untuk memasak namun limbah biogas dapat dimanfaatkan untuk pertanian

Sebelumnya untuk semakin memantabkan pilihan membangun instalasi biogas, kelompok Geni Penguripan Desa Gayamharjo telah melakukan kunjungan langsung ke kelompok Agni Mandiri. Tidak hanya instalasi biogas yang dikunjungi tapi juga demplot pertanian dengan penggunaan residu biogas. (Sr. Huberta/Ferry)

 

 

Musrenbang Tematik Desa Tlogolele, Selo, Boyolali

Musrenbang Tematik Tlogolele

Hardono (kanan, baju kotak kotak), Pendamping lapangan KARINAKAS memberikan penjelasan tentang perlunya Musrenban Berbasis Pengurangan Risiko Bencana, di Desa Tlogolele, Selo, Boyolali, Senin 7 November 2016 (foto: Ferry)

 

Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) Tematik “Pembangunan Berbasis Potensi dan Aset serta Pengurangan Risiko Bencana” Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Bouolali yang diinisiasi KARINAKAS dan difasilitasi Yayasan Darma Desa berlangsung Senin, 7 November di Balai Desa Tlogolele.

          Musrenbang dibuka Widodo, Kepala Desa Tlogolele, yang menyampaikan bahwa potensi di Desa Tlogolele sangat banyak baik sumberdaya alam, pertanian, manusia, dan budaya, aset dan potensi inilah yang perlu dimanfaatkan untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Tlogolele.

Musrenbang Tlogolele

Susilo Hastuti Sekretaris Desa Tlogolele, memaparkan RAPBDes Tlogolele (Foto: Ferry)

 

Terlebih aset dan potensi, menurut Susilo Hastuti Sekretaris Desa Tlogolele masih didukung Dana Desa sebesar Rp 1,97 Miliar. Daana Desa ini menuntut pihak desa membuat Anggaran Desa untuk memanfaatkan dana desa seoptimal mungkin. Tuntutan anggaran yang optimal inilah yang mengharuskan desa membuat musyarakat perencanaan pembangunan yang melibatkan semua pihak.

          Musrenbang tematik yang diikuti sekitar 25 orang ini menghasilkan visi dan misi desa yang kemudiaan dijabarkan dalam program kerja antara lain membuat jalur pendakian dan gardu pandang demi mendukung terwujudnya Desa Wisata Tlogolele, pengelolaan pertanian, peternakan, dan kehutanan, pusat kuliner dan oleh oleh, pesantren, panti sosial dan pemeliharaan situs candi. Tentu program kerja ini tidak boleh merusak alam dan mengutamakan pengurangan risiko bencana. (Ferry T. Indratno)

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com