Pelatihan Standar SPHERE

Sphere

Para Peserta Pelatihan Standar SPHERE berfoto bersama (Foto; Istimewa)

Beberapa wilayah Indonesia adalah daerah yang rawan bencana. Bencana yang berpotensi melanda adalah angin kencang, banjir, longsor, erupsi gunung berapi, maupun gempa bumi. Bencana tersebut seringkali datang secara tiba-tiba dan kadang di luar dugaan. Maka perlu dipersiapkan tim respon bencana yang siap sedia dan juga berkualitas yakni melaksanakan respon bencana sesuai standar. Inilah salah satu hal yang melatar belakangi diadakannya pelatihan standar Sphere. Sasaran pelatihan ini adalah agar organisasi kemanusiaan lokal keuskupan Malang yaitu Tim Solidaritas Kemanusiaan Keuskupan Malang (TSK KM) mengenal dan mengaplikasikan standar Sphere saat merespons bencana. Sphere merupakan satuan standar umum untuk bantuan kemanusian setelah bencana. Sphere bertujuan untuk meningkatkan kualitas program bantuan bencana, dan untuk meningkatkan akuntabilitas dari kerja kemanusian dalam tanggap darurat

Pelatihan Sphere ini diselenggarakan dan difasilitasi oleh KARINA dan CRS, serta diikuti oleh perwakilan dari beberapa paroki di Keuskupan Malang perwakilan dari beberapa konggregasi suster-suster yang berkarya di Keuskupan Malang, serta perwakilan dari KARINAKAS. Pelatihan ini dilaksanakan di Wisma Syhanti Lawang Malang dari tanggal 15 sampai 18 Juni 2017. Metode pelatihan adalah pemaparan teori dan kerja kelompok. Harapan diadakannya pelatihan ini adalah peserta mampu melaksanakan kegiatan operasi tanggap darurat yang sesuai dengan kode etik pekerja kemanusiaan, mampu menyusun sistem akuntabilitas bagi penerima manfaat dalam respon bencana, mampu menggunakan standar Sphere dalam beragam tingkatan dalam siklus proyek, mengenal standar setiap sektor dalam operasi tanggap darurat.

Sphere merupakan proyek kemanusiaan berskala dunia dan melibatkan banyak orang. Sphere membantu mewujudkan kasih terhadap mereka yang terkena bencana dengan didasari oleh panggilan kemanusiaan. Panggilan kemanusiaan mendorong untuk mencegah dan mengurangi penderitaan manusia saat bencana, dan supaya mereka yang terdampak bencana mendapatkan bantuan secara bermartabat tanpa diskriminasi. (Fr. Toms)

Dialog Penguatan Masyarakat Pengelola Wisata dalam Perspektif PRB

PRB

Hasil karya kelompok Tata Rias (Foto: Fr. Toms)

Pada hari Minggu tanggal 11 Juni 2017, Harpi Melati (kelompok tata rias pengantin) dan Pemdes Cluntang mengadakan acara Gelar Ramadhan yang bertempat di area wisata Tikungan Cinta, Desa Cluntang. Acara yang dimulai pukul pukul 13.00 WIB ini, dihadiri oleh masyarakat sekitar Desa Cluntang serta beberapa tamu undangan di antaranya TSD (Tim Siaga Desa) serta ibu-ibu PKK, dan ditutup dengan buka bersama. Selama acara berlangsung, panitia juga menyediakan pijat refleksi dan potong rambut gratis, serta pembagian sembako gratis bagi mereka yang kurang mampu. Acara ini didukung oleh SPEK-HAM, KARINAKAS, Merapi FM, BUMDes Lentera Cluntang, dan Wardah Kosmetik, serta dimeriahkan dengan hadirnya Putra-Putri Icon Emas Putih Susu Boyolali 2017 dan Putri Citra Indonesia Boyolali 2016.

Acara dimulai dengan pembukaan dan sambutan-sambutan, termasuk sambutan dari Ketua Harpi Melati dan Kepala Desa Cluntang. Di tengah-tengah acara Gelar Ramadhan itu, ada acara dialog yang difasilitasi oleh KARINAKAS. Narasumber dalam dialog itu adalah Drs. Bambang Sinungharjo M.Si, Kepala BPBD Boyolali. Dialog tersebut mengangkat tema tentang Penguatan Masyarakat Pengelola Wisata dalam Perspektif PRB (Pengurangan Resiko Bencana). Pada kesempatan tersebut Bapak Bambang menyebutkan bahwa alam itu bisa bersahabat dan alam juga bisa murka terhadap manusia, maka manusia wajib menjaga kelestarian alam semesta dan bersahabat dengan alam. Masyarakat juga sebaiknya meningkatkan kapasitas diri berhadapan dengan bencana alam, agar resiko bencana dapat dikurangi atau diminimalisir. Pada kesempatan itu juga terjadi dialog terutama dengan Putra-Putri Icon Emas Putih Susu Boyolali 2017 salah satunya mengenai PRB. Tujuan dialog tersebut adalah agar masyarakat menyadari diri hidup di daerah rawan bencana, dan diajak untuk meningkatkan kapasitas diri agar resiko bencana dapat dikurangi.(Fr. Toms)

Pertemuan Karitas Regio Jawa

Karitas Regio Jawa

Suasana pertemuan Karitas Indonesia Regio Jawa, di Hotel Puri Inn Kaliurang, Yogyakarta (Foto: Fr. Toms)

Pada tanggal 7 sampai 9 Juni 2017, KARINA KWI dan FORUM KARITAS REGIO JAWA mengadakan pertemuan bersama empat Karitas Regio Jawa yakni Karitas Keuskupan Bandung (KARIBA), Karitas Keuskupan Purwokerto (KARITO), Karitas Indonesia Keuskupan Agung Semarang (KARINAKAS) dan Karitas Keuskupan Agung Surabaya (KARIYO). Pertemuan tersebut dilaksanakan di Hotel Puri Indah Kaliurang. Metode pertemuan adalah diskusi kelompok per keuskupan serta presentasi, dan diskusi pleno.

Secara garis besar pertemuan tersebut bertujuan untuk sinkronisasi dan finalisasi logframe tahun keempat. Fokus dari agenda sinkronisasi dan finalisasi logframe 4 keuskupan ini terkait dengan aspek dokumentasi dan diseminasi praktik baik tahun 1-3 pada level kabupaten, provinsi, dan nasional. Tiga isu pokok yang mau diangkat dalam praktik baik adalah partisipasi warga dalam pembangunan desa, kesiapsiagaan dan mitigasi bencana serta adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Tiga isu pokok yang mau diangkat dalam praktik baik adalah partisipasi warga dalam pembangunan desa, kesiapsiagaan dan mitigasi bencana serta adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Penekanan pada diseminasi adalah bagaimana praktik baik ini: (1) Didengar/sampai ke meja para pengambil keputusan di level kabupaten, provinsi dan nasional, (2) Bisa memberikan rekomendasi kepada para pengambil kebijakan di level kabupaten, provinsi dan nasional, (3) Diketahui oleh kelompok masyarakat sipil pegiat pembangunan desa, kebencanaan dan perubahan iklim (jejaring NGO) termasuk jejaring HFI, FPRB Kabupaten/Kota dan Provinsi, serta PLANAS PRB, (4) Diketahui oleh para pihak tekait di internal gereja (komisi, lembaga, individu) yang relevan dengan ketiga isu di atas, (5) Diketahui oleh pihak universitas, khususnya Universitas Katolik yang memiliki perhatian terhadap ketiga isu di atas.

Maka tujuan pertemuan ini adalah (1) Melakukan sinkronisasi upaya pendokumentasian praktik baik pada level desa dan lembaga Karitas Keuskupan, (2) Melakukan sinkronisasi upaya diseminasi praktik baik oleh Karitas Keuskupan dan KARINA KWI, (3) Mendiskusikan peluang dan merencanakan upaya advokasi dan strateginya secara bersama antara Karitas Keuskupan dan KARINA KWI pada level kabupaten, provinsi, dan nasional, (4) Melakukan revisi dan finalisasi logframe tahun keempat.

Sedangkan hasil yang diharapkan dari pertemuan ini adalah (1) Adanya kesepakatan tentang tema-tema praktik baik yang akan didokumentasikan, benang merah untuk menjahit tema-tema tersebut, media dan bentuk dokumentasi yang sesuai dengan tema dan target audience, timeline proses pendokumentasian praktik baik, pembagian peran dan tanggung jawab antara Karitas Keuskupan dan KARINA KWI dalam kerja pendokumentasian praktik baik, anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan semua proses ini, (2) Adanya kesepakatan tentang tujuan dan target audience, media dan bentuk dokumentasi yang sesuai dengan tujuan dan target audience tersebut, timeline diseminasi praktik baik pada level kabupaten, provinsi, nasional dan juga pada level paroki, kevikepan, keuskupan, dan KWI, pembagian peran dan tanggung jawab antara Karitas Keuskupan dan KARINA KWI dalam kerja diseminasi praktik baik, anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan proses ini, (3) Adanya hasil identifikasi atas kebijakan dan program kerja pemerintah yang relevan dengan Program Umbrella Regio Jawa dan praktik baik yang dihasilkannya baik pada level kabupatan, provinsi dan nasional dan mendiskusikan peluang dan strategi untuk menghubungkan praktik baik tersebut dengan kebijakan dan program kerja pemerintah tersebut, (4) Adanya versi final dari logframe dan budget tahun keempat dari empat keuskupan. (Fr. Toms)

Ultah Ke-11 KARINAKAS

Ultah Karinakas

Romo A. Banu Kurnianto, Pr., Direktur KARINAKAS didampingi Frater Diakon Martnus Sutomo, Pr, mengunjukkan misa Ultah KARIANAKS di Yogyakarta, 12 Juni 2017 (Foto: Fr. Toms)

Peringatan 11 tahun berdirinya KARINAKAS dilaksanakan pada hari Senin 12 Juni 2017, bertempat di KARINAKAS yakni di Gedung Belarasa lantai 1. Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 40 orang yang terdiri dari umat Paroki Pringwulung, para romo dari Wisma Domus Pacis Pringwulung, perwakilan dari mitra kerja KARINAKAS, para staf KARINAKAS, dan para tamu undangan lainnya. Acara ini diawali dengan Perayaan Ekaristi Syukur yang dipimpin oleh Direktur KARINAKAS, Romo Antonius Banu Kurnianto Pr. Dalam khotbahnya, Romo Banu menyampaikan bahwa KARINAKAS adalah lembaga sosial milik Keuskupan Agung Semarang yang membawa misi mewartakan kabar sukacita kepada seluruh masyarakat khususnya dalam bidang kebencanaan. Sedangkan Bapak Pramono Murdoko yang ditunjuk untuk memberi sambutan mewakili KARINAKAS juga menyampaikan bahwa KARINAKAS adalah lembaga sosial milik keuskupan yang senantiasa siap siaga dalam tanggap darurat apabila terjadi bencana, dan sekaligus sebagai lembaga yang mandat utamanya adalah melaksanakan Pengurangan Resiko Bencana (PRB) dan Inklusi Sosial.

Ultah Karina

Penyerahan tumpeng dari Romo Banu ke Diakon Martinus Sutomo (Foto Fr. Toms)

Setelah Perayaan Ekaristi selesai, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh Romo Banu dan menyerahkannya kepada Frater Diakon Martinus Sutomo, yang sedang menjalani masa diakonat di KARINAKAS. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan ramah tamah sambil menonton film-film dokumenter dari KARINAKAS. Di akhir acara, para tamu undangan menyampaikan profisiat kepada pihak KARINAKAS atas ulang tahun yang ke-11. Rangkaian acara peringatan ulang tahun ini selesai sekitar pukul 17.00 WIB. (Fr. Martinus Sutomo)

Kunjungan Belajar KARIYO ke Samiran

Karitas Surabaya

Perangkat desa Samiran, bersama mas Widodo dan mas Sunardi, tokoh masyarakat setempat, didampingi Bayu Kristiawan dari KARINAKAS (kiri) menyambut tamu dari KARIYO (Foto: Fr. Toms)

Selasa, 30 Mei 2017, KARIYO atau Karina Keuskupan Agung Surabaya mengadakan kunjungan ke Desa Samiran, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Samiran merupakan desa dampingan KARINAKAS untuk program Building Community Resilience. Kunjungan KARIYO ini didamping oleh tim PRB dari KARINAKAS.

Peserta dari KARIYO berjumlah 12 orang termasuk Direktur KARIYO, Romo Luluk Widyawan Pr. Dalam kunjungan itu, KARIYO bermaksud untuk belajar tentang praktek baik yang sudah terjadi di Desa Samiran, yang salah satunya adalah bagaimana proses mengakses dana desa melalui MUSRENBANGDES. Kedatangan mereka disambut oleh salah satu perangkat Desa Samiran, salah satu anggota BPD (Badan Pembangunan Desa) dan perwakilan dari warga Desa Samiran. Acara kunjungan yang bertempat di Balai Desa Samiran tersebut diawali dengan sambutan dan penerimaan dari salah satu perangkat Desa Samiran, karena Kepala Desa Samiran sedang berhalangan sehingga tidak dapat hadir. Pada kesempatan tersebut, pihak Desa Samiran juga menyampaikan mengenai profil Desa Samiran.

Kariyo Surabaya

Foto bersama KARIYO, KARINAKAS dan sebagian Perangkat Desa Samiran di samping kantor Desa Samiran (Foto: Fr. Toms)

Saat ini, penduduk Desa Samiran berjumlah sekitar 3.500 jiwa. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai petani dan peternak. Beberapa tahun ini, Desa Samiran mendapatkan berbagai predikat sebagai desa yang baik, diantaranya predikat sebagai desa mandiri kesehatan dan desa inovasi. Bekerjasama dengan KARINAKAS, Desa Samiran juga mendapatkan predikat sebagai Desa Mandiri Energi karena telah memiliki 100 unit biogas sebagai sumber energi. Berbagai predikat tersebut diperoleh karena sebagian besar warga Desa Samiran mau kritis dan mau membuka diri terhadap pihak manapun yang ingin mengembangkan dan memajukan Desa Samiran, baik itu dari lembaga sosial pemerintah atau lembaga sosial non pemerintah termasuk KARINAKAS.

Dalam pertemuan tersebut terjadi sharing dan tanya jawab antara pihak Desa Samiran dengan pihak KARIYO. Banyak hal baru dan penting yang diperoleh dari sharing dan tanya jawab tersebut yang memperkaya KARIYO, dan nantinya dapat diaplikasikan di desa wilayah dampingan KARIYO yang salah satunya adalah Dusun Sumbertumpeng, Desa Margopatut, Kec. Sawahan, Kab. Nganjuk, Jawa Timur. Pertemuan diakhiri pada pukul 13.30 WIB, dan dilanjutkan dengan kunjungan kepada salah satu warga Desa Samiran pengguna biogas yakni Pak Suman. (Fr. Martinus Toms)

Pelatihan RBM KARINAKAS di Sumba

Pelatihan RBM

Karel Tuhehay (paling kanan) dan Pramono Murdoko (paling kiri) dari KARINAKAS, berfoto bersama dengan peserta Pelatihan RBM di Waingapu, Sumba Timur (Foto: Karel Tuhehay)

Pada tanggal 20 - 24 Maret 2017, bertempat di Kantor Yayasan Wali Ati (Yasalti) Waingapu, Sumba Timur, KARINAKAS memfasilitasi Training Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) kepada staff Yasalti. Dalam training ini pula diikuti oleh 2 orang dari Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Waingapu dan juga 1 orang staff dari Caritas Maumere.

Pelatihan RBM

Salah satu peserta sedang mempresentasi hasil diskusi (Foto: Karel)

Training ini difasilitasi oleh Pramono Murdoko dan Karel Tuhehay dari KARINAKAS, dengan materi-materi yaitu Perspektif Difabilitas, Hak-hak difabel, Paradigma Difabel, Etika Berinteraksi dengan difabel, Metode Pendekatan Difabel, Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM). Dan pada dua hari terakhir diisi dengan melihat kembali apa yang sudah dilakukan oleh Yasalti, PPDI dan Caritas Maumere terkait dengan RBM dan apa yang perlu dilakukan kedepannya berdasarkan kepada matriks RBM. (Karel Tuhehay)

Sertijab Manajer Keuangan KARINAKAS

Sertijab

Romo A. Banu Kurnianto menerima laporan pertanggungjawaban dari Setya Budi Asmara, disaksikan Romo Aria Dewanto, Romo Triatmoko, dan R. Anang Setiyargo (Foto: Ferry)

Bertempat di Kantor KARINAKAS, Gedung Belarasa, Jumat, 24/3/2017,dilakukan serah terima jabatan Manajer Keuangan KARINAKAS, dari B. Setya Budi Asmara kepada Direktur KARINAKAS, Romo A. Banu Kurnianto, Pr. Selanjutnya tugas Manajer Keuangan akan diampu Felicitas Gita Andry. Sertijab dihadari Romo Ignatius Aria Dewanto, SJ (ekonom), dan Romo I. Triatmoko, MSF (Sekretaris), Keuskupan Agung Semarang, serta Romo Florentinus Hartosubono, Pr, selaku Vikaris Episkopal (Vikep) DIY.  Acara ini juga disaksikan seluruh karyawan KARINAKAS. Selanjutnya Setya Budi Asmara yang merupakan Karyawan Keuskupan Agung Semarang, ditugaskan di Kevikepan DIY. (Ferry)

Evaluasi dan Perencanaan KARINAKAS

Evaperca Karinakas

 

Evaperca KARINAKAS

Selama 2 hari, 30-31 Januari 2017,  Tim Inti KARINAKAS yang terdiri dari Direktur, Manajer Keuangan, Manajer Personalia dan Umum, serta para Manajer Program, melalukan evaluasi dan perencanaan program di Kaliurang. Evaluasi dan perencanaan yang rutin dilakukan setiap awal tahun ini untuk semakin memantapkan gerak dan langkah KARINAKAS dalam berbelarasa dan melayani masyarakat. (Ferry T. Indratno)

Artikel Selanjutnya...

Halaman 1 dari 17