Pelatihan Perspektif Difabel bagi OPD

Program Peduli

Kurangnya pemahaman yang baik tentang difabilitas oleh Pemerintah, merupakan salah satu faktor kurangnya terakomodasi program pemberdayaan bagi difabel. Untuk meningkatkan pemahaman tentang difabilitas, maka pada tanggal 14 September 2017 telah dilakukan Pelatihan Perspektif Difabel kepada 11 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Klaten. termasuk Organisasi Penyandang Disabilitas (DPO) dan beberapa Sekolah di Kabupaten Klaten. Fasilitator dari kegiatan ini adalah Karel Tuhehay yang adalah Project Manager Program Peduli KARINAKAS, dengan materi pelatihan yaitu Ideologi Kenormalam, Meluruskan Cara Pandang Terhadap Difabel, Cacat dan Difabel, Membangun Sensitiviatas Hak Difabel. (Karel Tuhehay)

DINSOSPERMASDES Jepara Lakukan Orientasi Biogas di Sruni

Agni Mandiri

Kadisdinsospermasdes Jepara dan staf, berfoto bersama dengan Kabid Lingkungan Hidup Boyolali,  staf KARINAKAS serta anggota Kelompok Tani Agni Mandiri Sruni (Foto; Sr. Huberta)

Kamis, 14 September 2017, Kelompok Agni Mandiri Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mendapatkan kunjungan dari Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DINSOSPERMASDES) Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Pada kunjungan tersebut hadir Kepala Dinas DINSOSPERMASDES, Drs. Mohammad Zahid, Kepala-kepala Seksi dan staf serta 3 kepala desa.

Kegiatan kunjungan ini juga didampingi oleh Kabid Lingkungan Hidup Kabupaten Boyolali, Drs. Bambang Subagyo. Dalam sambutannya beliau menegaskan,”Biogas di Sruni bukan biogas yang abal-abal. Di Sruni, biogasnya benar-benar mandiri, bukan sekedar bantuan. Memang peran KARINAKAS dalam mendampingi desa Sruni sangat bagus. Kami sangat berterimakasih dengan pendampingan KARINAKAS.”

Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari lebih dalam bagaimana keberlangsungan program biogas bisa tetap dijaga. Ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa DINSOSPERMASDES memilih Sruni menjadi tujuan tempat pembelajaran. Di kabupaten Jepara, sudah ada beberapa bantuan biogas dari pemerintah akan tetapi biogas-biogas tersebut tidak dapat dipelihara dengan baik sehingga saat ini banyak yang mangkrak. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Eko Subgyo, Kasi pemberdayaan masyarakat desa,”Ada bantuan berupa biogas untuk beberapa desa yang ada di kecamatan Kembang, sayangnya bantuan tersebut tidak dikelola dengan baik. Sehingga sekarang ini biogas tersebut mangkrak dan tidak dapat digunakan lagai.” Lebih lanjut beliau mengungkapkan,”Perkembangan biogas di Sruni sangat bagus, barangkali bisa juga dikembangkan untuk desa-desa yang ada di kecamatan kembang.”

Setyo, ketua kelompok Agni Mandiri menegaskan, jika ada permasalahan dengan biogas jangan buru-buru dibongkar tetapi dipelajari persoalannya apa. “Agni Mandiri jika menemukan persoalan justru bangga karena dengan demikian kami jadi tahu cara mengatasinya seperti apa?” tuturnya. Peran kelompok sangat penting, karena kelompok menjadi ajang diskusi untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan tentang biogas.

Dalam kesempatan ini peserta juga diajak untuk melihat langsung salah satu instalasi biogas milik Hartono. Biogas berukuran 8 M3 ini digunakan untuk 2 KK dan masing-masing KK menggunakan 2 tungku. Biogas ini selain digunakan untuk kebutuhan harian juga untuk kebutuhan ngombor sapi (memberi makan ternak sapi). Peserta semakin yakin, biogas bisa dikembangkan untuk wilayah Jepara.

Persoalan lain yang sangat penting yang disampaikan peserta adalah tidak ada ahli biogas di kabupaten Jepara. Maka, Agni Mandiri yang hampir seluruh anggotanya sudah paham tentang instalasi biogas, siap untuk berbagi ilmu tentang teknis biogas. Karena semakin banyak biogas, semakin mandiri energy, semakin terjaga alam dan semakin sehat lingkungan kita. (Sr. M. Huberta, FSGM)

Pertemuan Mitra Caritas Germany

Caritas Germany

Salah satu program Caritas Germany (Foto: Istimewa)

Caritas Germany Indonesia mengadakan “Pertemuan Mitra” yang dilaksanakan di Kupang, Nusa Teggara Timur pada tanggal 21-25 Agustus 2017. Pertemuan ini diikuti oleh semua mitra Caritas Germany di Indonesia dalam program kebencanaan, rehabilitasi berbasis masyarakat, HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkotika. Dalam pertemuan ini disampaikan tentang berbagai capaian yang telah dihasilkan, termasuk di dalamnya tantangan, hambatan dan keberhasilan program.

Pertemuan Mitra dilaksanakan dengan metode sharing yakni berbagi pengalaman melalui presentasi dari semua mitra Caritas Germany di Indonesia. Pertemuan ini bertujuan untuk mengidentifikasi program yang akan diakukan pada masa mendatang dengan dukungan dari pemerintah. Selain itu, dikenalkan strategi tentang Pengadaan UnitLayanan Disabilitas di tingkat daerah oleh BPBD Kabupaten Klaten, dan Penggunaan Aplikasi GPS melalui telpon genggam oleh Akademi Sinau Bareng, Malang.

Untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan strategi yang diterapkan mitra Caritas Germany, diakukan diskusi yang terbagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok pengurangan resiko bencana, kelompok rehabilitasi bersumber daya masyarakat, dan kelompok kesehatan. Pada hari terakhir pertemuan, dilakukan kunjungan ke salah satu daerah dampingan salah satu mitra Caritas Germany yaitu Desa Oebelo, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Desa ini merupakan daerah dengan acaman bencana kekeringan yang mendapat pendampingan dari mitra Caritas Germany. (Yohanes Teguh Bayu)

Farewell Party Keluarga Besar Yayasan KARINAKAS

Ferpisahan Rm Banu

Romo Banu dan staff Yayasan KARINAKAS berfoto bersama (Foto; Dok. KARINAKAS)

Pada hari Rabu 16 Agustus 2017, keluarga besar Yayasan KARINAKAS yang terdiri dari para karyawan, staf dan wakil direktur KARINAKAS mengadakan acara farewell party di lantai 9 Hotel Yellow Star Yogyakarta. Acara ini dimulai pada pukul 16.30 dan selesai pada pukul 18.00 WIB. Farewell party ini diselenggarakan dalam rangka mengiring kepindahan Romo Banu Kurnianto Pr, dari Yayasan KARINAKAS menuju ke Yayasan KARINA KWI. Romo Banu menjabat Direktur KARINAKAS sejak tahun 2012 sampai dengan tahun 2017, dan mulai tanggal 15 Agustus 2017 Romo Banu akan menjadi Direktur Yayasan KARINA KWI yang bertempat di Jakarta.

Acara ini ditandai dengan pelepasan balon-balon berwarna-warni ke udara yang menjadi tanda harapan-harapan baik untuk Romo Banu, semoga beliau dapat melaksanakan tugas sebagai Direktur Karina KWI dengan sebaik-baiknya. Dalam sambutannya, Romo Banu mengucapkan terimakasih kepada para staff yang telah menemaninya dan mau berjuang bersama di KARINAKAS sehingga yayasan ini dapat menjadi rahmat dan berkat bagi banyak orang, terutama dalam hal kebencanaan. Hal senada juga disampaikan oleh Pak Pramono selaku wakil dari KARINAKAS, bahwa Romo Banu memiliki peran yang amat penting dalam perjalanan dan perkembangan KARINAKAS sehingga bisa menjadi besar seperti sekarang ini.

Dalam acara ini juga ditampilkan video singkat yang berisi kesan dan pesan para staf dan karyawan KARINAKAS terhadap Romo Banu selama ini. Pada intinya mereka semua menyatakan selamat atas tugas baru kepada Romo Banu, dan sekaligus memberikan dukungan serta semangat kepada Romo Banu. Kesan dan pesan para staf kantor KARINAKAS ini harapannya juga bisa menjadi sumber semangat dan masukan berharga bagi Romo Banu. Di akhir acara, semuanya menyanyikan lagu “Kemesraan” sebagai tanda penghargaan, kenangan indah, dan tanda tidak terputusnya tali persaudaraan dengan Romo Banu. Sekarang ini selain menjadi Direktur KARINA KWI, Romo Banu juga menjadi Pembina Yayasan KARINAKAS. Acara diakhiri dengan makan malam bersama sambil ramah tamah.(Rm. Toms)

Sertijab KARINAKAS

Sertijap

Romo FX Sukendari menandatangani dokumen Sertijap disaksikan Romo A. Banu Kurnianto, Direktur lama (kiri) dan Romo Alexius Dwi Aryanto, selaku direktur baru KARINAKAS  (kanan),  di kantor KARINAKAS Pringwulung (Foto: Dok KARINAKAS)

Pada tanggal 14 Agustus 2017 bertempat di Gedung Belarasa lantai 1, telah dilakukan Serah Terima Jabatan (SERTIJAB) dari Romo Ant. Banu Kurnianto Pr (Direktur lama) kepada Romo Alexius Dwi Ariyanto Pr (Direktur baru). Sertijab ini disaksikan oleh KURIA Keuskupan Agung Semarang, Pengurus Yayasan KARINAKAS yang diketuai oleh Romo Yohanes Krismanto Pr, Mitra KARINAKAS seperti DCV, CORDAID, TAGAR (Komunitas Tanggap Darurat) dan mitra KARINAKAS yang lainnya. Sertijab diawali pada pukul 10.00 dan diakhiri dengan makan siang serta ramah tamah pada pukul 13.00 WIB

Dalam acara itu, sambutan pertama disampaikan oleh Romo Banu sekaligus presentasi mengenai apa saja yang telah dilakukan dan bagaimana perkembangan KARINAKAS sampai saat ini. Setelah sambutan dan presentasi dari Romo Banu, tibalah acara inti yakni SERTIJAB dan penandatanganan berkas-berkas. Setelah itu acara dilanjutkan dengan sambutan kedua yang disampaikan oleh Romo Ary yang sekaligus menyampaikan ucapan terimakasih dan ucapan selamat kepada Romo Banu atas karyanya selama ini dan atas tugas barunya. Apa yang sudah baik dan berjalan ini akan dilanjutkan dan dikembangkan.

Sambutan ketiga disampaikan oleh Romo Krismanto selaku Ketua Pengurus Yayasan KARINAKAS. Sambutan terakhir disampaikan oleh Romo FX Sukendar Wignyosumarto Pr, selaku wakil dari KURIA Keuskupan Agung Semarang. Dalam kesempatan itu, Romo Kendar juga memberikan piagam penghargaan dari Bapak Uskup Keuskupan Agung Semarang kepada Romo Banu. Setelah itu acara dilanjutkan dengan penyerahan kenang-kenangan dari Yayasan KARINAKAS kepada Romo Banu yang diwakili oleh Romo Martinus Sutomo Pr (Wakil Direktur KARINAKAS). Acara diakhiri dengan makan siang dan ramah tamah. (Rm Toms)

Diskusi Aksesibilitas Peribadatan

Seminar UGM

Foto bersama para Pembicara, Penyelenggara dan Peserta Diskusi Aksesibilitas Tempat Ibadah di UGM (Foto: Rm Toms)

Pusat Studi dan Logistik (Pustral UGM) bekerja sama dengan Lembaga Dria Manunggal (sebuah lembaga pemberdayaan difabel) dan jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar pameran Redesain Arsitektur Peribadatan. Acara ini diselengarakan pada tanggal 29 Juli – 1 Agustus 2017. Kemudian pada tanggal 1 Agustus 2017, diadakan diskusi antara fasilitator dengan para peserta undangan, sekaligus pengumuman pemenang lomba redesain. Kegiatan diskusi ini mengambil tema tentang Aksesibilitas Peribadatan, yang bertempat di pusat Studi Transportasi dan Logistic (Pustral) UGM Yogyakarta.

Kegiatan diskusi ini diikuti oleh berbagai lembaga atau yayasan sosial termasuk KARINAKAS, para tokoh agama, para difabel lintas iman, akademisi dan pejabat atau instansi pemerintah yang berkaitan dengan aksesibilitas peribadatan. Tujuan diadakannya diskusi ini adalah untuk menggugah komitmen pemerintah dan pihak terkait dalam pemenuhan hak aksesbilitas peribadatan bagi difabel, dan mendapatkan gambaran tentang mekanisme penerbitan izin mendirikan bangunan (IMB) bagi rumah ibadah terkait prasyarat standar aksesibilitas.

Acara diskusi diawali dengan pembukaan dan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya, lalu dilanjutkan sambutan dari ketua Dria Manunggal yakni bapak Setyo Adhi Purwanto. Bapak Setyo berharap melalui diskusi ini peserta menjadi sadar bahwa bahwa kaum difabel perlu dibantu agar mandiri dalam beribadat di rumah ibadat, dan salah satu syaratnya adalah rumah ibadah itu harus aksessibel bagi difabel.

Acara lalu dilanjutkan dengan pemaparan dari para narasumber dan diskusi. Narasumber dalam diskusi ini adalah Bapak Ustadz Mohamad Jazirah A., beliau adalah Ketua Dewan Syura Takmir Masjid Jogokaryan Yogyakarta, dan Bapak Agung Kurniawan, S.Ip, M.Si, dari DPMPT Kab. Kulon Progo. Bapak Moh. Jazirah berkisah mengenai realitas aksesibilitas peribadatan bagi kaum difabel, dimana masih ada pemimpin agama yang belum sehati dan dalam memandang para difabel. Ia juga menyampaikan bahwa saat ini di Masjid Jogokaryan sudah ada 26 jamaah yang memakai kursi roda. Ia menegaskan bahwa mereka yang difabel harus diberi hak yang sama dalam peribadatan. Sementara Bapak Agung Kurniawan banyak mengulas tentang izin pendirian (IMB) rumah ibadat yang mengacu pada Perda No 14 Tahun 2011 dan Perbub No 76 tahun 2011. Salah satu point penting adalah bahwa IMB untuk rumah ibadat itu biayanya gratis.

Diskusi ini semakin menarik karena ada sesi tanya jawab antara narasumber dengan peserta. Acara diakhiri dengan pembagian hadiah lomba redesain arsitektur peribadatan. (Rm Toms)

Pelatihan Standar SPHERE

Sphere

Para Peserta Pelatihan Standar SPHERE berfoto bersama (Foto; Istimewa)

Beberapa wilayah Indonesia adalah daerah yang rawan bencana. Bencana yang berpotensi melanda adalah angin kencang, banjir, longsor, erupsi gunung berapi, maupun gempa bumi. Bencana tersebut seringkali datang secara tiba-tiba dan kadang di luar dugaan. Maka perlu dipersiapkan tim respon bencana yang siap sedia dan juga berkualitas yakni melaksanakan respon bencana sesuai standar. Inilah salah satu hal yang melatar belakangi diadakannya pelatihan standar Sphere. Sasaran pelatihan ini adalah agar organisasi kemanusiaan lokal keuskupan Malang yaitu Tim Solidaritas Kemanusiaan Keuskupan Malang (TSK KM) mengenal dan mengaplikasikan standar Sphere saat merespons bencana. Sphere merupakan satuan standar umum untuk bantuan kemanusian setelah bencana. Sphere bertujuan untuk meningkatkan kualitas program bantuan bencana, dan untuk meningkatkan akuntabilitas dari kerja kemanusian dalam tanggap darurat

Pelatihan Sphere ini diselenggarakan dan difasilitasi oleh KARINA dan CRS, serta diikuti oleh perwakilan dari beberapa paroki di Keuskupan Malang perwakilan dari beberapa konggregasi suster-suster yang berkarya di Keuskupan Malang, serta perwakilan dari KARINAKAS. Pelatihan ini dilaksanakan di Wisma Syhanti Lawang Malang dari tanggal 15 sampai 18 Juni 2017. Metode pelatihan adalah pemaparan teori dan kerja kelompok. Harapan diadakannya pelatihan ini adalah peserta mampu melaksanakan kegiatan operasi tanggap darurat yang sesuai dengan kode etik pekerja kemanusiaan, mampu menyusun sistem akuntabilitas bagi penerima manfaat dalam respon bencana, mampu menggunakan standar Sphere dalam beragam tingkatan dalam siklus proyek, mengenal standar setiap sektor dalam operasi tanggap darurat.

Sphere merupakan proyek kemanusiaan berskala dunia dan melibatkan banyak orang. Sphere membantu mewujudkan kasih terhadap mereka yang terkena bencana dengan didasari oleh panggilan kemanusiaan. Panggilan kemanusiaan mendorong untuk mencegah dan mengurangi penderitaan manusia saat bencana, dan supaya mereka yang terdampak bencana mendapatkan bantuan secara bermartabat tanpa diskriminasi. (Fr. Toms)

Dialog Penguatan Masyarakat Pengelola Wisata dalam Perspektif PRB

PRB

Hasil karya kelompok Tata Rias (Foto: Fr. Toms)

Pada hari Minggu tanggal 11 Juni 2017, Harpi Melati (kelompok tata rias pengantin) dan Pemdes Cluntang mengadakan acara Gelar Ramadhan yang bertempat di area wisata Tikungan Cinta, Desa Cluntang. Acara yang dimulai pukul pukul 13.00 WIB ini, dihadiri oleh masyarakat sekitar Desa Cluntang serta beberapa tamu undangan di antaranya TSD (Tim Siaga Desa) serta ibu-ibu PKK, dan ditutup dengan buka bersama. Selama acara berlangsung, panitia juga menyediakan pijat refleksi dan potong rambut gratis, serta pembagian sembako gratis bagi mereka yang kurang mampu. Acara ini didukung oleh SPEK-HAM, KARINAKAS, Merapi FM, BUMDes Lentera Cluntang, dan Wardah Kosmetik, serta dimeriahkan dengan hadirnya Putra-Putri Icon Emas Putih Susu Boyolali 2017 dan Putri Citra Indonesia Boyolali 2016.

Acara dimulai dengan pembukaan dan sambutan-sambutan, termasuk sambutan dari Ketua Harpi Melati dan Kepala Desa Cluntang. Di tengah-tengah acara Gelar Ramadhan itu, ada acara dialog yang difasilitasi oleh KARINAKAS. Narasumber dalam dialog itu adalah Drs. Bambang Sinungharjo M.Si, Kepala BPBD Boyolali. Dialog tersebut mengangkat tema tentang Penguatan Masyarakat Pengelola Wisata dalam Perspektif PRB (Pengurangan Resiko Bencana). Pada kesempatan tersebut Bapak Bambang menyebutkan bahwa alam itu bisa bersahabat dan alam juga bisa murka terhadap manusia, maka manusia wajib menjaga kelestarian alam semesta dan bersahabat dengan alam. Masyarakat juga sebaiknya meningkatkan kapasitas diri berhadapan dengan bencana alam, agar resiko bencana dapat dikurangi atau diminimalisir. Pada kesempatan itu juga terjadi dialog terutama dengan Putra-Putri Icon Emas Putih Susu Boyolali 2017 salah satunya mengenai PRB. Tujuan dialog tersebut adalah agar masyarakat menyadari diri hidup di daerah rawan bencana, dan diajak untuk meningkatkan kapasitas diri agar resiko bencana dapat dikurangi.(Fr. Toms)

Artikel Selanjutnya...

Halaman 1 dari 18