KARINAKAS Terbitkan Buku "Mereka yang Bergerak"

Buku Terbitan KARINAKAS

            Setelah menerbitkan buku Dari Sukoharjo Untuk Indonesia dan buku Menjadi Desa Inklusi, KARINAKAS kembali menerbitkan buku berjudul Mereka yang Bergerak. Buku ini memaparkan kisah para pahlawan kehidupan. Mereka bergerak untuk mewujudkan sebuah masyarakat inklusi dimana difabel diterima dengan tangan terbuka, diperlakukan secara adil, dihargai hak-haknya, didorong memiliki kehidupan yang lebih baik dan sejahtera serta dilibatkan dalam aneka persoalan kehidupan.

            Para pejuang kehidupan yang ditulis merupakan para tokoh mulai dari difabel, bidan desa, kader PAUD, kader posyandu, kader kesehatan, sekretaris desa, kepala desa, sekretaris kecamatan, pejabat kabupaten, dan camat di wilayah dampingan KARINAKAS di Kecamatan Karanganom, Klaten dan Kecamatan Weru Sukoharjo. Mereka adalah pahlawan. Pahlawan adalah sebutan untuk seseorang yang berjasa untuk kehidupan banyak orang dan dalam konteks tertentu berjuang untuk keluar dan menjadi pemenang dari aneka persoalan hidup yang melingkupi dirinya.

            Kisah kisah yang ditulis di buku ini merupakan rangkuman kisah para pahlawan kehidupan yang tampil di acara FCL (Forum Champion Lokal) yang diselenggarakan KARINAKAS di Hotel Greenhost Yogyakarta pada 27-28 Oktober 2016. Mereka adalah Slamet Widodo, Istamaji, Sri Hargiyanti, Sri Harwanti, Panut Darmanto, Tri Widi Hastutik, Yatmini, Mundzakir, Harjono, Sukarti, Yudo, Muchamad Mudrik, Sri Wahyuni, Anggoro Budi Warsito, dan Slamet Samodra Karyadi. FCL diselenggarakan KARINAKAs sebagai salah satu cara untuk mengungkap aneka pergelutan, perjuangan, kisah sukses yang dialami para tokoh kita ini agar bisa menjadi inspirasi bagi siapapun yang ingin bertindak untuk kemaslahatan masyarakat khususnya dalam konteks difabel dan masayarakat inklusi.

            Di samping kisah yang dirangkum dari FCL, buku ini juga memuat kisah rekan-rekan difabel Wiyono, Dwi Astuti, Sentrah, Maryono, dan Ngadiman yang telah dimuat di website karinakas.or,id dan buku KARINAKAS yang ditulis oleh Hezti Innsriani dan Pramono Murdoko. Selamat membaca buku ini semoga dengan sekelumit kisah dari para pahlawan kehidupan yang penuh energi ini menjadi semangat dan inspirasi juga bagi para pembaca untuk terus mengabdi sesuai bidang pelayanan masing masing. (Ferry T. Indratno)

 

Peringatan HDI di Sampang, Gunungkidul: Semua Punya Hak yang Sama

HDI Sampang Gunungkidul

Bupati Gunungkidul, Hj. Badingah, menyalami siswa PAUD yang menyambutnya dalam acara Peringatan HDI 2016 Kabupaten Gunungkidul di Desa Sampang, Gedangsari, Gunungkidul, 3-4 Desember 2016 (Foto: Ferry)

Meski diguyur hujan sejak malam hari, pagi itu, Sabtu 3 Desember 2016, Balai Desa Sampang, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul telah dipenuhi oleh ratusa orang. Anak-anak PAUD yang bersuka ria berlomba dan bermain, para difabel yang menggelar pameran produk SHG (Self Help Group), para perangkat desa dan perwakilan FKDG (Forum Komunikasi Disabilitas Gunungkidul) dari berbagai kecamatan yang bersiap mengikuti seminar “Mewujudkan Pembangunan yang Ramah Difabel”, serta para tamu undangan dan hadirin yang hilir muduk menyaksikan pameran dan lomba anak-anak. Suasana sangat meriah.

 

HDI Sampang Gunungkidul

Bupati didampingi Direktur KARINAKAS, Romo A. Banu Kurnianto, meninjau pameran kerajinan dan makan lokal. (Foto: Ferry)

 

Tidak lama kemudian tamu istimewa yang dinanti-nanti datang juga yakni ibu Bupati Gunungkidul Hj. Badingah. Bupati yang didampingi Kepala Dinas Sosial dan Kepala Bappeda Gunungkidul itu langsung menyalami anak-anak Paud yang sudah berjajar rapi di sepanjang jalan yang akan dilewati bupati. “Apakabar anak-anak, ini tadi lomba apa?,” tanya Badingah. Anak-anak kompak menjawab dengan nyanyian “selamat datang bunda, selamat datang bunda”.

 

HDI Gunungkidul

Bupati memotong pita sebagai tanda diresmikannya Kamar mandi aksesibel di Balai Desa Sampang, Gedangsari, Gunungkidul (Foto: Ferry)

Bupati kemudian meninjau stand bakti sosial berupa pengobatan dan chek-up kesehatan, stand-stand pameran produk kerajinan dan makanan tradisional dari perwakilan SHG di Sampang dan Watu Gajah serta perwakilan dari FKDG se Gunungkidul. Secara detail bupati menanyakan produk, kendala yang dihadapi dan prospek pemasaran pada setiap peserta.

Buku “Menjadi Desa Inklusi” Diluncurkan

Menjadi Desa Inklusi

Romo Antonius Banu Kurnianto, Pramono Murdoko, dan Karel Tuhehay (Moderator), dalam diskusi launching buku "Menjadi Desa Inklusi" di Yogyakarta, 30 November 2016 (Foto: Ferry)

Setelah beberapa waktu yang lalu meluncurkan buku “Dari Sukoharjo Untuk Indonesia, Praktik Baik Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat” KARINAKAS kembali melaunching buku tentang RBM berjudul “Menjadi Desa Inklusi” karya Hezti Insriani dan Pramono Murdoko.

          Launching dilaksanakan Rabu, 30 November 2016 di Hotel Platinum, Yogyakarta. Hadir dalam acara ini Camat Karanganom, Klaten beserta Kepala Desa Beku, Jeblog, Jambeyan dan Pomah serta Sekcam Weru, Sukoharjo beserta Kepala Desa Krajan, Tegalsari, dan Ngreco. Mereka merupakan pemangku wilayah dimana Program RBM KARINAKAS dilakukan. Disamping itu launching ini diikuti Tim RBM Desa, difabel, dan juga para mitra KARINAKAS diantaranya Caritas Germany, KARINA KWI, dan Satunama.

Menjadi Desa Inklusi

 

Foto bersama segenap staf KARINAKAS dan peserta launching buku (Foto: Ferry)

Romo Antonius Banu Kurnianto, Pr., Direktur KARINAKAS didampingi Pramono Murdoko, manajer Program Peduli KARINAKAS, menjelaskan bahwa Program Peduli pilar difabel yang pelaksanakannya menggunakan strategi RBM telah cukup membawa perubahan bagi difabel selaku penerima manfaat utama. Berbagai aspek yang dilakukan baik pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial inklusi, dan pemberdayaan telah membawa kesejahteraan dan terlebih membawa mereka pada kesetaraan serta penghargaan dari masyarakat.

Artikel Selanjutnya...

Halaman 1 dari 6