Tentang Karinakas

 

SEJARAH KARINA KAS

Karitas Indonesia Keuskupan Agung Semarang (KARINAKAS) berdiri pada 12 Juni 2006, dua minggu sesudah gempa 5,9 skala Richter menghantam DIY dan sebagian Jawa Tengah. 6.235 orang meninggal, ribuan terluka, puluhan ribu jiwa kehilangan tempat tinggal, ribuan bangunan hancur.

Di bawah kepemimpinan Uskup Agung Semarang waktu itu, Mgr. I. Suharyo, KARINAKAS dibentuk untuk memberikan pelayanan tanggap darurat bagi korban gempa. Mandat yang diemban KARINAKAS adalah menjadi wajah sosial Gereja Keuskupan Agung Semarang. Harapannya, Gereja menjadi organisme yang selalu relevan dan signifikan bagi zamannya.

Pada perjalanannya, KARINAKAS melewati fase emergency, post emergency, dan rehabilitasi. Hingga awal 2008, aktivitas KARINAKAS masih berada dalam lingkup proses pemulihan pasca gempa. Rekonstruksi bangunan (rumah dan bangunan pendidikan), asistensi sosial, pemberdayaan kehidupan sosial menjadi pusat perhatian.

Pada 2009, KARINAKAS beranjak dari tema gempa Yogya 2006. Secara partisipatif dirumuskan rencana strategis KARINAKAS 2009 – 2013. Program yang menjadi fokus adalah :

  1. Rehabilitasi bersumberdaya Masyarakat (RBM)

  2. Pengurangan Risiko Bencana (PRB)

  3. Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PMM)

KARINAKAS merupakan anggota keluarga besar Caritas Internationalis yang berpusat di Roma. Dalam koordinasi dengan Karina KWI, KARINAKAS bersama dengan ratusan anggota Caritas dari berbagai negara seluruh dunia bersama-sama mewujudkan tata dunia yang lebih adil bagi semua orang, terutama mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difable. Iman Gereja pada Allah yang digali dari Tradisi dan Kitab Suci menjadi sumber inspirasi dan semangat dalam melaksanakan mandat KARINAKAS.

 

VISI

HADIRNYA ROH KEPEDULIAN DEMI MARTABAT MANUSIA

Visi KARINAKAS adalah bagian tak terpisahkan dari Ensiklik Paus Benediktus XVI. Ensiklik pertama dalam masa kepausan Benediktus XVI adalah Deus Caritas Est (Allah adalah kasih). Dalam ensiklik tersebut ditekankan bahwa pelayanan karitatif merupakan kerasulan sosio-pastoral. Kerasulan sosio-pastoral berarti mengembangkan karya pelayanan yang menyentuh empat hubungan, yakni dengan Tuhan, dengan sesama, dengan diri sendiri dan dengan semesta alam. Dalam keempat dimensi tersebut kasih menjadi kekuatan pokok sebab kasih berlandaskan pada iman. Salah satu wujud nyata kasih adalah roh kepedulian yang berkembang dan menjadi daya gerak bagi setiap orang untuk membangun kehidupan yang semakin baik.

Kehidupan akan semakin baik apabila martabat pribadi setiap orang dihormati dan dibela juga bilamana situasi kemanusiaan berada dalam ancaman baik oleh perilaku manusia maupun bencana. Menghormati dan membela martabat pribadi manusia berarti menghadirkan roh kepedulian sehingga setiap orang mau dan mampu bekerjasama dengan tulus. Roh kepedulian menjadi daya dorong dan daya ubah bagi setiap orang untuk memperbaiki cara melayani secara lebih cermat apa yang menjadi kebutuhan pokok mereka yang dilayani, khususnya yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel.

KARINAKAS mengembangkan pelayanan kemanusiaan untuk menghadirkan roh kepedulian di masyarakat. Roh kepedulian mengatasi batas-batas agama, suku, ras dan golongan. Roh kepedulian menumbuhkan kesetiakawanan. Roh kepedulian membangkitkan belarasa. Roh kepedulian menggerakkan orang untuk menjadi teman seperjalangan dan seperjuangan.

KARINAKAS adalah lembaga pelayanan kemanusiaan yang dibentuk sejak setelah terjadinya gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya pada tahun 2006. Berdasarkan Surat Keputusan Uskup tgl. 12 Juni 2006 KARINAKAS menjadi lembaga pelayanan kemanusiaan di tingkat Keuskupan. Kehadiran kami mendapat dukungan positif KARINA KWI dan dari keluarga besar Caritas Internationalis yang berpusat di Roma yang memiliki anggota sebanyak 162 tersebar di seluruh dunia.

 

MISI

  • Dalam setiap karya KARINAKAS hendaknya dilandasi oleh semangat untuk menjadi bagian dari masyarakat yang didampingi demi mewujudkan kondisi masyarakat yang adil, damai, dan menjunjung tinggi martabat manusia.

  • Menggunakan semua sumber daya yang dimiliki KARINAKAS untuk saling mendukung secara harmonis dalam rangka membangun masyarakat yang berdaya dan mandiri.

  • Karina-KAS mengutamakan kerja sama semua pihak tanpa membedakan latar belakangnya demi tercapainya tujuan luhur yang diharapkan.

  • Penggalangan sumber daya yang berupa dana, tenada, ataupun sumber lainnhya harus diupayakan demi mengoptimalkan pelayanannya.

 

NILAI

  • Keadilan

  • Solidaritas

  • Kedamaian

 

PRINSIP

  • Bertanggung jawab dan kredibel

  • Cepat tanggap

  • Non diskriminatif

  • Vokasional / amanah / ahli dan beretika

  • Keterbukaan

  • Rasa memiliki dan menjadi bagian dari KARINAKAS

  • Partisipatif dan adaptif

  • Team Work

  • Subsidiaritas

  • Saling mencerdaskan

menerima kasih dan memberi kasih itu perkara yang satu-tunggal; tanpa ada yang menerima, orang juga tidak bisa memberi; maka menerima kasih sekaligus juga memberi kasih karena memungkinkan orang lain memberi kasih #RomoMangun "Burung-burung Manyar"