Bencana dan Pengurangan Risiko Bencana

 

PRB

Anak-anak SDN Cluntang, Desa Cluntang, Musuk, Kabupaten Boyolali, melalukan uji coba lahan locor dengan menggunakan media tanah yang ditanami dan tidak ditanami apabila terkena air hujan (Foto: Ferry)

Kita tidak bisa menghilangkan bencana, tapi kita bisa mengurangi risiko. Kita bisa mengurangi kerusakan dan menyelamatkan lebih banyak nyawa. (Ban-Ki-Moon)

 

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

 

Pengurangan risiko bencana/PRB (Disaster Risk Reduction/DRR) merupakan salah satu sistem pendekatan untuk mengindentifikasi, mengevaluasi dan mengurangi risiko yang diakibatkan oleh bencana. Pengurangan risiko bencana adalah konsep dan praktek mengurangi risiko bencana melalui upaya sistematis untuk menganalisa dan mengurangi faktor-faktor penyebab bencana. Mengurangi paparan terhadap bahaya, mengurangi kerentanan manusia dan properti, manajemen yang tepat terhadap pengelolaan lahan dan lingkungan, dan meningkatkan kesiapan terhadap dampak bencana merupakan contoh pengurangan risiko bencana. (Ferry)

 

Lompatan Kuantum Jiwa "Entrepreneur"

Kewirausahaan

Produk produk kewirausahaan  yang dihasilkan rekan rekan difabel di kecamatan Karanganom Klaten, dijual dalam acara Launching Inklusi Center Kecamatan karanganom Klaten, April 2016 yang lalu (Foto: Ferry)

Siapa menduga konglomerat dari Meksiko, Carlos Slim, orang terkaya di dunia yang menurut majalah Forbes telah menggeser kedudukan Bill Gates dan Warren Buffet, ternyata sudah mencari uang sejak usia 10 tahun. Tiger Wood pun, pegolf juara dunia, mulai memegang golf sejak usia tiga tahun. Adapun Ir Ciputra telah memulai berwirausaha pada usia menjelang remaja.

Bagi umumnya orang Indonesia, memulai usaha dan menciptakan lapangan kerja sejak dini bukanlah kebiasaan yang lazim dilakukan. Penyebabnya, menurut Agung B Waluyo, Manajer Pendidikan Universitas Ciputra Entrepreneurship Center, dipengaruhi oleh dua hal. Pertama, selama 350 tahun masa penjajahan sebagian besar rakyat Indonesia tidak mendapat pendidikan yang seharusnya. Kedua, pendidikan kita memiliki orientasi membentuk SDM pencari kerja, bukan pencipta kerja.

Mind set sebagai pencari kerja semakin membuat tingginya angka penganggur di Indonesia. BPS mencatat, sampai Februari 2008, jumlah sarjana menganggur sudah mencapai 1,1 juta orang. Padahal, menurut penelitian, setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen hanya mampu menciptakan sekitar 265.000 lapangan kerja baru. Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkisar 6 persen, hanya tersedia sekitar 1.590.000 lapangan kerja baru. Lulusan sarjana setiap tahunnya lebih dari 300.000 orang.

Akibatnya, banyak terjadi penganggur terdidik. Cerita-cerita ironis bisa didengar. Ada sarjana nuklir yang berjualan es krim atau insinyur pesawat terbang menjadi pemulung. Bahkan, penelitian Prof Payaman J Simanjuntak dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menyebutkan, toga dari 10 tukang ojek di Jakarta adalah sarjana.

Minimnya ”entrepreneur”

Secara etimologis, entrepreneur berasal dari bahasa Perancis, entre (antara) dan prendre (mengambil), yang dipakai untuk menggambarkan orang yang berani mengambil risiko dan memulai yang baru (Serian Wijatno, Pengantar Entrepreneur, Jakarta: 2009). Di Indonesia, entrepreneur bisa ditulis entrepreneur, wirausaha, atau usahawan.

Aku Bagaikan Siput Nabi Nuh

Risma Wira Bharata

Risma Wira Bharata, S.E, M.Sc, Ketua FKDG (Foto: Ferry)

 

Oleh: Risma Wira Bharata

Aku kok bisa seperti ini? Aku kok bisa lulus kuliah S1 Akuntansi UNY ya? Aku kok bisa melanjutkan S2 di UGM ya? Aku kok bisa menulis artikel ini dan 20-an artikel yang lain? Pertanyaan-pertanyaan itu juga sering ditanyakan orang lain. Kok bisa ya? Padahal orangnya seperti itu. Nulisnya lambat. Saya aja heran, apalagi anda? Hanya KuasaNya yang Maha Dhasyat yang mengatur kehidupan ini yang membuatku seperti ini. Jika saya yang diciptakan oleh Allah dengan mempunyai keterbatasan, maka saya yakin anda lebih bisa daripada saya. Sahabat baik saya yang bernama Wulan berkata kepada saya bahwa ada sebuah kisah siput nabi Nuh yang berjalan dengan sangat lambat tetapi dia tidak pernah menyerah dan putus asa sehingga pada akhirnya sampai ke bahtera dengan selamat. Dia memotivasi saya supaya tetap semangat didalam meraih cita-cita saya karena semua manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing yang sudah dianugerahkan. Jadi kita harus tetap menjalani kehidupan ini dengan kebaikan karena umur paling lama hanya 1 abad.

Forum Komunikasi Disabilitas Gunungkidul

Risma Wira Bharata, S.E, M.Sc sedang memberi motivasi ke sesama difabel (Foto: Ferry)

Kemarin belum lama saya ketemu dengan guru bahasa Indonesia saya semasa SMP, bu Anis namanya pada waktu mengurus pembuatan e-KTP di kantor kecamatan Wonosari. Beliau masih teringat dengan wajah dan stale khas saya. Pertanyaan pertama yang terucap dari bibir beliau adalah mas, bagaimana kabarnya dan sekarang lanjut dimana? Saya menjawab seperti jawaban pada umumnya yaitu Alhamdulillah kabar baik dan saya melanjutkan di akuntansi UNY. Lalu beliau bertanya lagi: kuliahnya semester berapa? Saya menjawab: Alhamdulillah sudah selesai. Beliau terbengong, lalu beliau mengucapkan Alhamdulillah mas, kamu bisa lulus 4 tahun, padahal belum tentu teman-temanmu sudah lulus juga. Saya terus menceritakan kepada beliau: saya juga tak menyangka bu bahwa Allah begitu sayang kepada saya. Padahal jika dilogika kemungkinan saya tidak bisa mengikuti kuliah karena ujian dalam perkuliahan itu disuruh menulis jawaban didalam kertas polio bolak-balik dalam waktu 1,5 jam.

Artikel Selanjutnya...

Halaman 1 dari 2