KARINAKAS Terbitkan Modul PRB untuk Guru Sekolah Dasar

Modul Pengurangan Resiko Bencana

Modul PRB untuk Guru yang diterbitkan KARINAKAS (Foto: Dok)

Modul Pengurangan Risiko Bencana

Teguh, Mia, dan Nining (Berdiri dari kiri ke kanan), menggali masukan masukan dari guru untuk perbaikan Modul PRB (Foto: Ferry)

KARINAKAS akhir Juni 2016 yang lalu meluncurkan Modul Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Modul ini diperkenalkan kepada para guru dan pejabat Dinas Pendidikan  di kantor  Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Boyolali.  Modul ini disusun oleh KARINAKAS difasilitasi oleh Teguh C. Dalyono, Fransisca Asmiarsi, Prasena Nawak Santi, dan Theodora Lupita Ratri dari Yayasan Abisatya Yogyakarta, melibatkan guru guru dan kepala sekolah dari SD Samiran, SD Suroteleng 1, dan SD Suroteleng 2 Kecamatan Musuk serta SD Sruni 1, SD Sruni 2, SD Cluntang, dan SD Drajidan Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali. Disusun dengan serangkaian kegiatan dimulai dari assesmen, pemetaan wilayah bencana, penyusunan draft kurikulum dan penyusunan modul untuk guru. Menurut Y. Teguh Bayu Kristiawan, Manajer PRB KARINAKAS modul modul ini bisa dipakai untuk memberi kesadaran awal bagi para murid agar siap menghadapi bencana dan terutama mampu melakukan adaptasi dan mitigasi bencana. Sedangkan Budiyadi dari  Dinas Pendidikan kabupaten Boyolali berharap guru-guru  makin terbantu untuk mengadakan penyadaran PRB di mulai dari sekolah masing masing. (Ferry T. Indratno)

Lompatan Kuantum Jiwa "Entrepreneur"

Kewirausahaan

Produk produk kewirausahaan  yang dihasilkan rekan rekan difabel di kecamatan Karanganom Klaten, dijual dalam acara Launching Inklusi Center Kecamatan karanganom Klaten, April 2016 yang lalu (Foto: Ferry)

Siapa menduga konglomerat dari Meksiko, Carlos Slim, orang terkaya di dunia yang menurut majalah Forbes telah menggeser kedudukan Bill Gates dan Warren Buffet, ternyata sudah mencari uang sejak usia 10 tahun. Tiger Wood pun, pegolf juara dunia, mulai memegang golf sejak usia tiga tahun. Adapun Ir Ciputra telah memulai berwirausaha pada usia menjelang remaja.

Bagi umumnya orang Indonesia, memulai usaha dan menciptakan lapangan kerja sejak dini bukanlah kebiasaan yang lazim dilakukan. Penyebabnya, menurut Agung B Waluyo, Manajer Pendidikan Universitas Ciputra Entrepreneurship Center, dipengaruhi oleh dua hal. Pertama, selama 350 tahun masa penjajahan sebagian besar rakyat Indonesia tidak mendapat pendidikan yang seharusnya. Kedua, pendidikan kita memiliki orientasi membentuk SDM pencari kerja, bukan pencipta kerja.

Mind set sebagai pencari kerja semakin membuat tingginya angka penganggur di Indonesia. BPS mencatat, sampai Februari 2008, jumlah sarjana menganggur sudah mencapai 1,1 juta orang. Padahal, menurut penelitian, setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen hanya mampu menciptakan sekitar 265.000 lapangan kerja baru. Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkisar 6 persen, hanya tersedia sekitar 1.590.000 lapangan kerja baru. Lulusan sarjana setiap tahunnya lebih dari 300.000 orang.

Akibatnya, banyak terjadi penganggur terdidik. Cerita-cerita ironis bisa didengar. Ada sarjana nuklir yang berjualan es krim atau insinyur pesawat terbang menjadi pemulung. Bahkan, penelitian Prof Payaman J Simanjuntak dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menyebutkan, toga dari 10 tukang ojek di Jakarta adalah sarjana.

Minimnya ”entrepreneur”

Secara etimologis, entrepreneur berasal dari bahasa Perancis, entre (antara) dan prendre (mengambil), yang dipakai untuk menggambarkan orang yang berani mengambil risiko dan memulai yang baru (Serian Wijatno, Pengantar Entrepreneur, Jakarta: 2009). Di Indonesia, entrepreneur bisa ditulis entrepreneur, wirausaha, atau usahawan.

Ketika Anak Muda Bicara Desa

Lokakarya Pembangunan Desa

Y. Bayu Kristiawan, KARINAKAS, memberi masukan pada lokakarya Revitalisasi Gotong Royong Untuk Suroteleng Membangun, di Balai Desa Suroteleng, Selo, Boyolali, 17-18 Mei 2016 (Foto: Ferry)

 

AYO MEMBANGUN DESA

Ahmad Erani Yustika

Kini saatnya kaum muda
Penuhi panggilan tugas mulia
Singsingkan lengan baju untuk Nusa
Berkarya bagi Tanah Air tercinta

Mengolah sawah, hutan, lautan
Merawat sumber daya kehidupan
Satukan tekad gelorakan semangat
Membangun bangsa makmur dan berdaulat

Musyawarah jadi pandu warga
Adat istiadat lestarikan sukma budaya
Gotong royong sandaran kerja
Keadilan tujuan bersama

Bebaskanlah desa dari kemiskinan
Wujudkan kemandirian sandang, pangan, papan
Bergandeng tangan tulus ikhlas berjuang
Mengabdi pada desa membangun Indonesia

Puisi karya Ahmad Erani Yustika, Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD) Kementerian Desa Republik Indonesia, terasa pas dan menjadi penambah semangat 38 anak muda Desa Suroteleng, Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah yang tanggal 17-18 Mei 2016 mengadakan Lokakarya “Revitalisasi Gotong Royong untuk Suroteleng Membangun”.

Lokakarya pembangunan desa suroteleng

Salah satu peserta sedang mempresentasikan hasil diskusi tentang potensi desa, disaksikan Fasilitator,  Sinam, Forum Desa Nusantara (Foto: Ferry)

 

Lokakarya yang diadakan Pemerintah Desa Suroteleng, Yayasan Darma Desa, KARINAKAS, Forum Desa Nusantara, dan Serikat Paguyupan Petani Qoryah Thayyibah (SPPQT) sebagai tindaklanjut implementasi UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa Berbasis Prakarsa Warga Desa.

© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com