Wawanhati Bersama Uskup Agung Semarang Mgr. Johanes M.T Pujasumarta

Bertemu dengan Uskup Agung Semarang, Mgr. Pujasumarta adalah sebuah kesempatan yang dinantikan. Peserta adalah staff KARINAKAS, bertempat di Realino Universitas Sanata Dharma(24/08), turut serta Caritas Germany dalam sarasehan tersebut. Dalam persentasinya, KARINAKAS memperkenalkan seluruh program pelayanan di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Penyampaian kegiatan – kegiatan program sore itu dipaparkan oleh Albert Deby sebagai perwakilan lembaga.

 

Pada kesempatan tersebut, Bapak Uskup yang bernama lengkap Johannes Maria Trilaksyanto Pujasumarta bercerita mengenai sebuah cerita sebelum Merapi erupsi mengenai percakapan seorang Kyai dan para santrinya.

Sumini, Perjuangan yang Tak Pernah Henti (2)

Yogya (16/5)

Yogyakarta pagi ini lebih cerah dari biasanya. Harapan untuk hidup lebih baik seakan dikuatkan oleh hangatnya matahari pagi. Di tengah suasana yang penuh semangat, datanglah informasi yang mengejutkan. Alvian David Triatmaja meninggal dunia. Sumini, ibunya,  kehilangan anak bungsunya yang sejak dua minggu lalu berjuang dan diperjuangkan hidupnya yang terancam gizi buruk, TBC, dan hernia.

 

Pembagian Kursi Roda untuk CP

22 kursi roda, 3 kruck, dan 3 walker dibagikan. Bertempat di Balai Desa Ceporan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten anak-anak CP bersama dengan orang tua mereka diundang untuk acara pembagian kursi roda, kruck dan walker secara resmi. United Cerebral Palsy Roda Untuk Kemanusiaan Indonesia (UCP RUKI) dan KARINAKAS bekerjasama menangani anak-anak CP di Kabupaten Klaten.

Hari yang sungguh membahagiakan bagi anak-anak Cerebral Palsy (CP/ Layuh Otak) Klaten hari Kamis (08/07) lalu.22 kursi roda, 3 kruck, dan 3 walker dibagikan. Bertempat di Balai Desa Ceporan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten anak-anak CP bersama dengan orang tua mereka diundang untuk acara pembagian kursi roda, kruck dan walker secara resmi. United Cerebral Palsy Roda Untuk Kemanusiaan Indonesia (UCP RUKI) dan KARINAKAS bekerjasama menangani anak-anak CP di Kabupaten Klaten.

 

Semangat Untuk Menuju Kehidupan Lebih Baik

Semangat  Menuju Kehidupan Lebih Baik

Kelakukan kita terhadap kehidupan, menentukan sikap kehidupan terhadap kita.

Our attitude toward life determines life’s attitude towards us.
~ Earl Nightingale


 

“Saya berulang kali belajar berjalan mbak, memang sulit dan saya hampir saja menyerah. Tadinya saya berpikir, ya sudah lah.. mungkin memang saya harus begini.” Katanya sedih

Kelakukan kita terhadap kehidupan, menentukan sikap kehidupan terhadap kita.

Our attitude toward life determines life’s attitude towards us.
~ Earl Nightingale

 

Kuatkan Kapasitas untuk Kurangi Resiko Bencana

Karina-KAS menjalankan program Pengurangan Resiko Bencana Oleh Masyarakat (PRBOM). Program ini diperkenalkan untuk pertama kalinya pada tahun 2008 di Paroki St. Maria Lourdes, Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

 

Keuskupan Agung Semarang terletak di Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Jumlah populasi yang tinggal di wilayah keuskupan adalah 19.056.082 jiwa dan 2.64%-nya atau 503.597[1] jiwa adalah umat Katolik. Secara geografis, beberapa wilayah atau paroki di Keuskupan Agung Semarang terletak di lereng-lereng Gunung Merapi, gunung teraktif di Pulau Jawa yang masih menjadi bagian dari Sabuk Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Saat ini, lebih dari 67.305 jiwa masih tinggal di lereng-lereng gunung tersebut dan secara langsung berhadapan dengan atau hidup bersama bahaya letusan Gunung Merapi[2].

 

Konsep Pembangunan Inklusif; Apakah Perlu ?

Saat ini, hampir di semua negara, difabel merupakan salah satu dari kelompok yang terpinggirkan. Difabel masih mendapatkan kesulitan, untuk mendapatkan perhatian sebagai objek dalam program – program pembangunan, sekaligus sebagai subjek / pelaku aktif. Dalih bahwa masih banyaknya isu yang harus dipikirkan selain masalah difabilitas seringkali menjadi alasan bagi beberapa tokoh pembangunan untuk mengesampingkan isu difabilitas atau bahkan  tidak memberikan perhatian sama sekali terhadap isu ini.

 

Menurut International Disability and Development Consortium ( IDDC ) yang ditampilkan di website www. make-development-inclusive.org, pembangunan inklusif merupakan sebuah proses untuk memastikan bahwa semua kelompok yang terpinggirkan bisa terlibat dalam proses pembangunan. Konsep tersebut mengupayakan pemberian hak bagi kelompok / kaum yang terpinggirkan  di dalam proses pembangunan. Saat ini, hampir di semua negara, difabel merupakan salah satu dari kelompok yang terpinggirkan. Difabel masih mendapatkan kesulitan, untuk mendapatkan perhatian sebagai objek dalam program – program pembangunan, sekaligus sebagai subjek / pelaku aktif. Dalih bahwa masih banyaknya isu yang harus dipikirkan selain masalah difabilitas seringkali menjadi alasan bagi beberapa tokoh pembangunan untuk mengesampingkan isu difabilitas atau bahkan  tidak memberikan perhatian sama sekali terhadap isu ini. Hal ini masih ditambah lagi dengan dukungan angka statistik di beberapa negara yang seakan – akan menunjukkan bahwa jumlah difabel di negara – negara tersebut sangat kecil untuk diperhatikan. Padahal sebenarnya angka – angka tersebut masih perlu dipertanyakan keakuratannya.  Kisaran angka prevalensi dari difabel seringkali terlihat sangat dramatis, dari di bawah 1 % di Kenya dan Bangladesh, sampai pada angka 20% di New Zealand, ini terjadi karena berbagai faktor yang mempengaruhinya, misalnya definisi/ pengertian yang berbeda mengenai difabilitas, perbedaan metode pengumpulan data, perbedaan pada tipe dan kualitas perencanaan pendataan. Selain karena itu prevalensi difabilitas di Asia sulit untuk diukur karena besarnya populasi dan kurangnya sumberdaya manusia dan pendukung survey yang lain.

 

Kunjungan Medis : Perawatan Decubitus dan Fisioterapi untuk SCI

Sanggrahan, Klaten – KARINAKAS.

Tim medis KARINAKAS dalam kegiatan rutin kunjungan ke rumah mitra-mitranya adalah ungkapan belarasa kepada para SCI (Spinal Cord Injury/Cedera Tulang Belakang). Pelayanan yang dilakukan adalah pengobatan luka decubitus dan fisioterapi.


Kunjungan ke rumah Slamet(18/08)

Ibu paruh baya yang ditemui pagi itu sedang berjemur di teras rumah. Dengan senyum ibu mungil itu menyambut kami. Slamet masih tergolong baru sebagai SCI, 6 bulan yang lalu dia jatuh dari pohon melinjo. Dengan digendong oleh suaminya ke dalam rumah, dia membaringkan istrinya dengan penuh kasih di tempat tidur. Akses di rumah Slamet masih sulit untuk melakukan aktivitas sehari-hari di atas kursi roda dan Slamet pun belum bisa mandiri.

 

“Eling, Waspada lan Sembada Ngadepi Bebaya”

“Eling, Waspada lan Sembada Ngadepi Bebaya”
(Berikhtiar untuk senantiasa sadar dan waspada terhadap ancaman/ bahaya sambil meningkatkan kemampuan komunitas untuk mengurangi resiko bencana).



Pasca Gempa berkekuatan 5,0SR dengan kedalaman 10 km pukul 18:41:38 WIB pada 21 Agustus 2010 yang berpusat di Bantul DIY (www.bmg.go.id), KARINAKAS bersama Forum Peduli Difabel Bantul (FPDB) bekerjasama dalam kegiatan ”Pelatihan Pengurangan Resiko Bencana untuk Difabel Paraplegia Di Wilayah Kabupaten Bantul” pada hari Rabu dan Kamis 25 – 26 Agustus 2010.


© 2010 karinakas.or.id. | +62 274 552126 | karinakas.office@gmail.com